Perlakukanlah Orang Lain Seperti Kalian Ingin Diperlakukan Oleh Mereka.

matius712

Aku akan mulai tulisan ini dengan sebuah kutipan dari Matius 7:12

Perlakukanlah orang lain seperti kalian ingin diperlakukan oleh mereka. Itulah inti hukum Musa dan ajaran nabi-nabi.”

Kurang lebih 11 tahun yang lalu ketika kebosanan hebat melanda diriku, aku mulai berkenalan dengan Buddhisme dan Karen Armstrong. Melalui Buddhisme dan Karen Armstrong aku mengenal Compassion dan Golden Rule. Ide dasarnya adalah “menempatkan diri kita pada posisi orang lain”. Dengan begitu kita akan memahami mereka dengan lebih baik, berhenti menghakimi dan memperlakukan manusia sebagai manusia.

Itulah aturan kedua dari memanusiakan manusia: Perlakukanlah Orang Lain Seperti Kalian Ingin Diperlakukan Oleh Mereka.

Perlakukanlah Orang Lain Seperti Kalian Ingin Diperlakukan Oleh Mereka.

Aku Bersedih, Karena itu Aku Menulis

cute-puppy-sad

Aku menemukan ini pada tahun 2009 ketika aku baru saja membuat blog pertamaku dan sedang senang-senangnya menulis. Boleh dikatakan tulisan pada blog pertamaku sebagian besar adalah curhat. Saat aku menuliskan masalahku, aku mulai merasakan penerimaan terhadap apa yang aku tulis dan dengan begitu aku merasa damai. Sejak itu, setiap kali aku merasa sedih, maka aku menulis.

Aku juga menemukan, dengan menuliskan permasalahanku, aku mendapatkan pemahaman yang lebih baik terhadapnya. Aku lebih mudah mendapatkan akar dari permasalahan dan dengan begitu aku bisa merangkai alternatif-alternatif solusi.

Aku merasa terbantu dengan menulis, mungkin kamu juga. Mengapa tidak mencoba?

Baca juga: Ayo (kembali) menulis blog!

 

Sumber gambar: http://www.playbuzz.com/elizabethderryberry10/can-you-tell-the-dog-by-its-fur

Aku Bersedih, Karena itu Aku Menulis

Your Future Self is Watching You Right Now Through Memories

future-self

Aku sedang blogwalking dan entah mengapa kepikiran untuk membuka kembali tulisan pertama dari blog pertama ku yang aku tulis pada bulan Januari 2009. Mulai dari membaca kalimat pertama, alam imajinerku sudah mengaktifkan mesin waktu. Aku terbang menembus waktu, kembali ke masa-masa yang telah lalu. Bukan sebagai pemain, melainkan sebagai penonton. Yang pasif tanpa punya kuasa mengarahkan permainan.

Tulisan pertama dari blog pertama ku dapat diakses di sini: http://haddadsammir.blogspot.co.id/2009/01/me-my-self-my-mind-my-obsession.html

Sementara itu, aku yang di masa depan mungkin sedang membaca blog ini. Dia melalui mesin waktu imajinernya sedang menyaksikan dirinya – aku – menulis paragraf ini. Dia mungkin akan senyum-senyum, sedih, atau mungkin marah. Tapi tentu dia sadar bahwa apapun sikap mental yang diperlihatkannya tidak akan mengubah apa-apa. Diapun tentu akan sadar bahwa semua pengetahuan dan kebijaksanaan yang dimilliki nya adalah hasil dari kebodohan aku. Bukankan semua yang sekarang bijaksana, dulu juga pernah menjadi bodoh dan sombong?

Untuk diriku di masa lalu …
Terima kasih telah menjadi sombong, aku sekarang sadar betapa aku bukanlah siapa-siapa.
Terima kasih telah menjadi pemberontak, sekarang aku sadar bahwa untuk mencapai kedamaian yang dibutuhkan adalah “menyerah”.
Terima kasih telah menjadi egois, aku menjadi sadar sepenuhnya bahwa ego adalah musuh terbesarku.
Terima kasih telah menjadi keras kepala, kamu menyadarkanku untuk tidak lagi mengulang kesalahan-kesalahan yang lalu.
Untuk apapun yang telah kamu lakukan, aku berterima kasih. Kamu akan jadi guru terbaik bagi ku.

Untuk diriku di masa depan …
Hei … aku ini tidak nyata. Aku hanyalalah serpihan kenangan di dalam kepalamu. Yang nyata adalah kamu! Jangan lama-lama di sini. Aku sudah lama hilang. Masa ku telah lewat. Oh iya .. Aku selalu buat catatan harian, jangan lupa kamu baca!

Untuk semua penggalan hidupku, aku berterima kasih. Telepas dari hidup yang adalah misteri, sejauh ini aku bersukur telah terlahir. Suatu keberuntungan bisa mengenal semesta.

Sumber gambar: https://twitter.com/theartidote/status/653842996597620736

Your Future Self is Watching You Right Now Through Memories

Illusion of Control

the-turtle-let-go-of-the-illusion-of-control

Saat aku berkontemplasi untuk mengenal kecemasan yang sering kali menghantui ku, aku menemukan bahwa sumber dari kecemasan itu adalah illusion of control. Ilusi tersebut membuat aku merasa berkuasa dan bertanggung jawab atas segala sesuatu. Sehingga aku mengambil sikap preventif serta mengusahakan untuk mengubah keadaan yang sebenarnya aku tidak punya kendali sama sekali atasnya.

Lalu aku teringat dialog Shifu dengan Master Oogway dalam film Kungfu Panda. Dialog tersebut menjabarkan ilusi kendali serta ajakan untuk melepaskannya.

Oogway: Si Panda tidak akan pernah memenuhi takdirnya, begitu juga dgn engkau…
Oogway: sampai kau bisa mengusir ilusi kendali.

Shifu: Ilusi?

Oogway: Ya. Lihat pohon persik ini, Shifu.
Oogway: Aku tidak bisa membuatnya mekar sesuai keinginanku,
Oogway: Atau membuat buahnya matang sebelum waktunya.

Shifu: Tapi ada hal-hal yang bisa kita kendalikan!
Shifu: Aku bisa mengendalikan kapan buahnya akan jatuh.
Shifu: Aku bisa mengendalikan… dimana harus kutanam benihnya.
Shifu: Itu bukan ilusi, Guru.

Oogway: Benar.
Oogway: Tapi apapun yang kau lakukan… benih itu akan tumbuh menjadi pohon persik.
Oogway: Kau boleh saja berharap benih itu menjadi pohon apel atau jeruk,
Oogway: tapi kau tetap saja akan memperoleh pohon persik.

Sekarang, setiap kali aku merasa cemas, aku balik bertanya kepada diriku: “Apakah aku punya kendali atas apa-apa yang aku cemaskan?” Tentu saja jawabannya “tidak”. Aku akan menarik nafas dalam-dalam, lalu  aku lepaskan nafasku sambil melepaskan semua kecemasanku.

Kadang berhasil, kadang tidak terlalu berhasil. Tak apalah, hidup ini proses.

Catatan:
Dari buku “How To Stop Worrying And Start Living” oleh Dale Carnegie, ada empat langkah menganalisa kecemasan:
1. What is the problem?
2. What is the cause of the problem?
3. What are all the possible solutions?
4. What is the best solution?
Setelah mendapatkan solusi terbaik, maka fokuskan energi untuk menuntaskannya.

 

Illusion of Control

House of Broken Home

broken-home

Aku menyebutnya sebagai house of broken home. Rumah bagi mereka yang pernah dikecewakan. Di tempat itu mereka – anak-anak muda yang bertahan – mencoba mencari cinta yang telah diambil paksa dari mereka. Mereka tidak nakal, mereka hanya mencari perhatian, karena mereka butuh perhatian. Semua modifikasi tubuh mereka yang mungkin akan mengganggu orang-orang yang lebih beruntung bukanlah karena mereka badung, tapi karena mereka ingin menunjukkan bahwa mereka ada. “Aku ada! Lihat lah aku! Cintailah aku!”.

Jangan ajari mereka tentang kesedihan, itu keseharian mereka. Jangan bersikap seperti pahlawan, karena mereka adalah pahlawan. Jangan ragukan kekuatan mereka, aku sudah katakan bahwa mereka adalah anak muda yang bertahan.

Di rumah itu mereka adalah keluarga. Aku datang sebagai tamu. Berharap suatu saat nanti mereka akan menganggapku bagian dari keluarga pula.

House of Broken Home

2016, Catatan Akhir Tahun.

2016 kawan, seperti yang sudah aku ceritakan adalah tahun kopi. Seperti yang sudah aku ceritakan juga di awal tahun, tahun 2016 (sejauh ketika aku menulis blog itu dan bertahan hingga akhir tahun) adalah tahun dengan sedikit sekali momen yang dapat diabadikan. Tapi mungkin saja, momen yang sedikit itu adalah momen yang punya dampak besar di masa depan.

Tahun ini aku betemu dengan orang-orang baru, ya setiap tahun tentu aku bertemu dengan orang-orang baru, tapi tidak seperti tahun-tahun yang lalu, tahun ini aku bertemu dengan orang-orang “baru”, yang jauh berbeda dengan ku, dari gaya hidup dan terlebih lagi cara berpikir. Aku bersukur akan hal itu, pertemuan itu memberiku sudut padang yang baru dalam melihat ke luar diri dan lebih-lebih ke dalam diri ku.

Menjelang akhir tahun aku banyak berkumpul dengan teman-teman dekat semasa SMA. Boleh dikatakan bahwa teman-teman dekatku pada 12 tahun terakhir ini tidak berubah. Aku berada dalam kelompok yang sama dalam 12 tahun terakhir. Meskipun pertemuan kami dalam 12 tahun tersebut tidaklah teratur dan intens, tapi kami sadar sepenuhnya bahwa kami punya tempat yang sama untuk kembali.

Jika bulan Januari hingga Agustus adalah bulan yang penuh semangat, maka bulan “ber-ber”, September hingga Desember adalah bulan kontemplatif. Aku menghabiskan banyak waktu untuk melihat ke dalam. Aku akhirnya sampai kepada Carl Jung dan Isabel Briggs Myers. Aku menemukan tipe kepribadianku dan mendapatkan informasi lanjutan seputar karir dan hubungan (relationship) yang mengubah cara aku memandang diriku dan hal tersebut akan mejadi tujuan pencapaian ku di tahun mendatang.

16-personality

Perlu diingat bahwa tetap ada kritik terhadap klasifkasi Briggs Myers, aku menggunakannya sebagai kisaran umum yang mempermudah aku dalam memahami diriku. Jung sendiri mengatakan bahwa tidak ada yang murni introvert atau extrovert, setiap orang pada dasarnya berada pada sebuah spektrum.

Sudah sore tanggal 1 Januari 2017 ketika aku menulis ini. Aku tidak ingin berlama-lama dalam kenangan 2016. Untuk 2017 ini hanya ada satu kata: Prioritas. Aku tidak perlu lagi membuat rencana.

 

NB: Alternatif pandangan mengenai tipe kepribadian, Cari: Dario Nardi: “Neuroscience of Personality” | Talks at Google

Sumber gambar: http://www.truity.com/view/types
Makalah Dario Nardi: https://www.pdx.edu/sysc/sites/www.pdx.edu.sysc/files/neuro-systems.pdf

2016, Catatan Akhir Tahun.

2016, Aku Tidak Tahu dan Jangan Berspekulasi

23 Desember menuju tengah malam. Seperti biasa, akhir tahun adalah waktu yang tepat untuk berkontemplasi. Aku akan menghabiskan waktu ku untuk mengurung diri di kamar. Membaca kembali mind map dan catatan yang aku buat setahun sebelumnya lalu menggerutu ah .. selalu begitu ..

Menjelang akhir tahun ini aku mulai menghindari sosial media. Kawan-kawan pun mungkin melakukan hal yang sama. Aku melakukannya agar kemanusiaan ku tetap terjaga, hariku positif dan tekanan darah ku stabil. Pelarian dunia maya yang terbaik pada akhir tahun adalah blog dan feed reader.

Meskipun sepanjang tahun ini tidak begitu menyenangkan namun aku tetap mendapatkan banyak pelajaran. Diantaranya adalah: 1) aku membutuhkan lingkungan kerja yang fleksibel dengan kata lain aku tidak cocok kerja kantoran. 2) Kopi arabika itu enak. 3) Semua perempuan yang aku cenderung kepadanya semenjak SMP hingga sekarang punya karakteristik yang sama, 4) “Aku tidak tahu” adalah kunci menuju pengetahuan dan 5) Jangan berspekulasi, gunakan data.

Oke .. aku sudah mulai mengantuk. Kalau aku lanjutkan menulis, ceritaku bisa berantakan. Kalau aku lanjutkan besok, kalimat pembuka “23 Desember menuju tengah malam” sudah tidak valid lagi. Ini saja dulu.

2016, Aku Tidak Tahu dan Jangan Berspekulasi