To Guide It, To Nurture It, To Believe in It.

to-guide-it

Oh tentu saja Kungfu Panda, film animasi yang memuat banyak sekali filosofi hidup. Beberapa hari yang lalu aku menulis blog dengan tema kutipan yang aku ambil dari film tersebut: You must let go the illusion of control. Pada tulisan tersebut aku mengutip pembicaraan antara Master Oogway dan Shifu:

Oogway: Si Panda tidak akan pernah memenuhi takdirnya, begitu juga dgn engkau…
Oogway: sampai kau bisa mengusir ilusi kendali.

Shifu: Ilusi?

Oogway: Ya. Lihat pohon persik ini, Shifu.
Oogway: Aku tidak bisa membuatnya mekar sesuai keinginanku,
Oogway: Atau membuat buahnya matang sebelum waktunya.

Shifu: Tapi ada hal-hal yang bisa kita kendalikan!
Shifu: Aku bisa mengendalikan kapan buahnya akan jatuh.
Shifu: Aku bisa mengendalikan… dimana harus kutanam benihnya.
Shifu: Itu bukan ilusi, Guru.

Oogway: Benar.
Oogway: Tapi apapun yang kau lakukan… benih itu akan tumbuh menjadi pohon persik.
Oogway: Kau boleh saja berharap benih itu menjadi pohon apel atau jeruk,
Oogway: tapi kau tetap saja akan memperoleh pohon persik.

Namun dialog di atas tidak berhenti di sana saja:

Shifu: Tapi pohon persik tidak bisa mengalahkan Tai Lung!

Oogway: Mungkin saja bisa.
Oogway: Jika kau mau menuntunnya, membinanya, Mempercayainya.

Shifu: Tapi bagaimana?
Shifu: Aku butuh bantuanmu, Master.

Oogway: Tidak, kau hanya butuh untuk mempercayainya.
Oogway: Berjanjilah padaku, Shifu.
Oogway: Berjanjilah kau akan mempercayainya.

Aku suka sekali dengan analogi pohon dan buah di sini untuk menggambarkan bahwa segala sesuatu adalah sebagaimana ia adanya. Buah yang jatuh dari pohon yang sama, memang dapat tumbuh dengan cara yang berbeda. Namun bagaimanapun buah jeruk dapat tumbuh dengan cara nya sendiri-sendiri, ia tidak akan dapat tumbuh menjadi pohon apel.

Sekarang, persoalannya bukan apa pohonnya, juga bukan apa buahnya. Persoalannya adalah: akankah kita merawat benihnya? Akankah kita menyiraminya, memupuknya secara teratur dan memastikan calon pohon tadi mendapatkan sinar matahari yang cukup?

Kawan ku sayang, buah jeruk tidak akan tumbuh menjadi pohon apel. Namun kita bisa memberikan perhatian kita kepadanya, menuntunnya, membinanya dan mempercayainya. Kita dapat memaksimalkan potensinya. Buah jeruk tadi dapat tumbuh menjadi pohon jeruk yang sehat dan lebat, mengalahkan benih-benih yang lain dan bahkan mengalahkan pohon induknya.

Itulah aturan ke tiga dari memanusiakan-manusia: menuntunnya, membinanya dan mempercayainya.

Advertisements
To Guide It, To Nurture It, To Believe in It.

Your Future Self is Watching You Right Now Through Memories

future-self

Aku sedang blogwalking dan entah mengapa kepikiran untuk membuka kembali tulisan pertama dari blog pertama ku yang aku tulis pada bulan Januari 2009. Mulai dari membaca kalimat pertama, alam imajinerku sudah mengaktifkan mesin waktu. Aku terbang menembus waktu, kembali ke masa-masa yang telah lalu. Bukan sebagai pemain, melainkan sebagai penonton. Yang pasif tanpa punya kuasa mengarahkan permainan.

Tulisan pertama dari blog pertama ku dapat diakses di sini: http://haddadsammir.blogspot.co.id/2009/01/me-my-self-my-mind-my-obsession.html

Sementara itu, aku yang di masa depan mungkin sedang membaca blog ini. Dia melalui mesin waktu imajinernya sedang menyaksikan dirinya – aku – menulis paragraf ini. Dia mungkin akan senyum-senyum, sedih, atau mungkin marah. Tapi tentu dia sadar bahwa apapun sikap mental yang diperlihatkannya tidak akan mengubah apa-apa. Diapun tentu akan sadar bahwa semua pengetahuan dan kebijaksanaan yang dimilliki nya adalah hasil dari kebodohan aku. Bukankan semua yang sekarang bijaksana, dulu juga pernah menjadi bodoh dan sombong?

Untuk diriku di masa lalu …
Terima kasih telah menjadi sombong, aku sekarang sadar betapa aku bukanlah siapa-siapa.
Terima kasih telah menjadi pemberontak, sekarang aku sadar bahwa untuk mencapai kedamaian yang dibutuhkan adalah “menyerah”.
Terima kasih telah menjadi egois, aku menjadi sadar sepenuhnya bahwa ego adalah musuh terbesarku.
Terima kasih telah menjadi keras kepala, kamu menyadarkanku untuk tidak lagi mengulang kesalahan-kesalahan yang lalu.
Untuk apapun yang telah kamu lakukan, aku berterima kasih. Kamu akan jadi guru terbaik bagi ku.

Untuk diriku di masa depan …
Hei … aku ini tidak nyata. Aku hanyalalah serpihan kenangan di dalam kepalamu. Yang nyata adalah kamu! Jangan lama-lama di sini. Aku sudah lama hilang. Masa ku telah lewat. Oh iya .. Aku selalu buat catatan harian, jangan lupa kamu baca!

Untuk semua penggalan hidupku, aku berterima kasih. Telepas dari hidup yang adalah misteri, sejauh ini aku bersukur telah terlahir. Suatu keberuntungan bisa mengenal semesta.

Sumber gambar: https://twitter.com/theartidote/status/653842996597620736

Your Future Self is Watching You Right Now Through Memories

Illusion of Control

the-turtle-let-go-of-the-illusion-of-control

Saat aku berkontemplasi untuk mengenal kecemasan yang sering kali menghantui ku, aku menemukan bahwa sumber dari kecemasan itu adalah illusion of control. Ilusi tersebut membuat aku merasa berkuasa dan bertanggung jawab atas segala sesuatu. Sehingga aku mengambil sikap preventif serta mengusahakan untuk mengubah keadaan yang sebenarnya aku tidak punya kendali sama sekali atasnya.

Lalu aku teringat dialog Shifu dengan Master Oogway dalam film Kungfu Panda. Dialog tersebut menjabarkan ilusi kendali serta ajakan untuk melepaskannya.

Oogway: Si Panda tidak akan pernah memenuhi takdirnya, begitu juga dgn engkau…
Oogway: sampai kau bisa mengusir ilusi kendali.

Shifu: Ilusi?

Oogway: Ya. Lihat pohon persik ini, Shifu.
Oogway: Aku tidak bisa membuatnya mekar sesuai keinginanku,
Oogway: Atau membuat buahnya matang sebelum waktunya.

Shifu: Tapi ada hal-hal yang bisa kita kendalikan!
Shifu: Aku bisa mengendalikan kapan buahnya akan jatuh.
Shifu: Aku bisa mengendalikan… dimana harus kutanam benihnya.
Shifu: Itu bukan ilusi, Guru.

Oogway: Benar.
Oogway: Tapi apapun yang kau lakukan… benih itu akan tumbuh menjadi pohon persik.
Oogway: Kau boleh saja berharap benih itu menjadi pohon apel atau jeruk,
Oogway: tapi kau tetap saja akan memperoleh pohon persik.

Sekarang, setiap kali aku merasa cemas, aku balik bertanya kepada diriku: “Apakah aku punya kendali atas apa-apa yang aku cemaskan?” Tentu saja jawabannya “tidak”. Aku akan menarik nafas dalam-dalam, lalu  aku lepaskan nafasku sambil melepaskan semua kecemasanku.

Kadang berhasil, kadang tidak terlalu berhasil. Tak apalah, hidup ini proses.

Catatan:
Dari buku “How To Stop Worrying And Start Living” oleh Dale Carnegie, ada empat langkah menganalisa kecemasan:
1. What is the problem?
2. What is the cause of the problem?
3. What are all the possible solutions?
4. What is the best solution?
Setelah mendapatkan solusi terbaik, maka fokuskan energi untuk menuntaskannya.

 

Illusion of Control

2016, Aku Tidak Tahu dan Jangan Berspekulasi

23 Desember menuju tengah malam. Seperti biasa, akhir tahun adalah waktu yang tepat untuk berkontemplasi. Aku akan menghabiskan waktu ku untuk mengurung diri di kamar. Membaca kembali mind map dan catatan yang aku buat setahun sebelumnya lalu menggerutu ah .. selalu begitu ..

Menjelang akhir tahun ini aku mulai menghindari sosial media. Kawan-kawan pun mungkin melakukan hal yang sama. Aku melakukannya agar kemanusiaan ku tetap terjaga, hariku positif dan tekanan darah ku stabil. Pelarian dunia maya yang terbaik pada akhir tahun adalah blog dan feed reader.

Meskipun sepanjang tahun ini tidak begitu menyenangkan namun aku tetap mendapatkan banyak pelajaran. Diantaranya adalah: 1) aku membutuhkan lingkungan kerja yang fleksibel dengan kata lain aku tidak cocok kerja kantoran. 2) Kopi arabika itu enak. 3) Semua perempuan yang aku cenderung kepadanya semenjak SMP hingga sekarang punya karakteristik yang sama, 4) “Aku tidak tahu” adalah kunci menuju pengetahuan dan 5) Jangan berspekulasi, gunakan data.

Oke .. aku sudah mulai mengantuk. Kalau aku lanjutkan menulis, ceritaku bisa berantakan. Kalau aku lanjutkan besok, kalimat pembuka “23 Desember menuju tengah malam” sudah tidak valid lagi. Ini saja dulu.

2016, Aku Tidak Tahu dan Jangan Berspekulasi

Secangkir Kebahagiaan.

Apa itu secangkir kebahagiaan? Tentu saja secangkir kopi. Minuman berwarna gelap yang sudah jadi temanku sejak akhir 90an. Waktu itu masih SMP, bagi alam bawah sadarku, kopi itu sangat lelaki. Apa lagi kopi pahit. Semakin pahit, maka semakin lelaki lah peminumnya. Hingga aku mengenal kopi arabica pada awal tahun 2016.

Istilah kopi arabica memang sudah sering aku dengar, tapi sekedar mendengarnya saja. Kopi itu ya kopi. Minuman beraroma nikmat dengan rasa pahit, oleh karena itu tambahkanlah gula biar sedikit manis. Singkat cerita, pertemuan ku dengan kopi arabica berawal dari mengunjungi parayaan imlek yang diadakan perkumpulan sosial HBT di gedung HBT kota Padang. Aroma kopi mulai tercium saat aku memasuki bagian kuliner, tepatnya di stand Mo Coffee. Tidak butuh waktu lama hingga mesin espresso menyita perhatianku.

Long black espresso blend Tanamera adalah kopi arabica specialty pertama yang aku coba. Reaksi ku saat itu adalah: Pahit, asam dan “oh .. benarkah kalian minum kopi tidak pakai gula?“.

Kopi arabica bukanlah sesuatu yang membuatku suka pada kali pertama. Hingga beberapa minggu pertama aku masih mengakui bahwa kopi robusta kapal laut yang aku minum selalu dari gelas legendaris adalah yang paling enak.  Tapi lambat laun aku mulai mengapresiasi kopi arabica. Kopi arabica membuat aku mendefinisikan kembali apa itu kopi. Apa yang diberikan kopi robusta adalah aroma kopi, selain kafein dalam dosis tinggi tentunya. Sedangkan apa yang diberikan kopi arabica adalah “cita rasa”.

Begitulah berlangsung hari demi hari, bulan demi bulan. Aku berpetualang dari kedai kopi ke kedai kopi. Mencoba kopi arabica dari berbagai penjuru nusantara. Tentu saja aku mendapatkan teman-teman baru. Teman-teman yang suka kopi, pemilik dan pengelola kedai kopi serta barista-baristawati yang selalu ramah dan menyenangkan diajak ngobrol.

Kebahagiaan tentu baru menjadi nyata jika ia dibagi. Selain ngopi sendiri, aku juga mengajak kawan-kawan untuk menikmati kopi arabica, kopi enak yang berbeda dengan yang biasa mereka nikmati di rumah. Tapi reaksi mereka tidaklah selalu positif. Tidak sedikit teman-teman yang menolak kopi arabica.

Oke .. soal selera tidak bisa dipaksakan. Tapi aku yakin bahwa ini lebih dari sekedar soal selera. Terlepas dari kopi arabica yang menawarkan cita rasa yang bervariasi, kopi arabica tetap adalah kopi yang baru dikenal oleh sebagian besar masyarakat kita. Masyarakat kita terbiasa dengan cita rasa pahit dan aroma yang menggoda dari kopi robusta. Kopi arabica tidak romantik dan tidak membangkitkan kembali kenangan yang indah. Tidak seperti ketika meminum kopi robusta yang mengembalikan kenangan akan kampung halaman, kenangan akan jati diri kita.

Akhrnya di penghujung tahun ini aku sadar bahwa selama ini aku terlalu kopi sentris. Petualanganku terhadap kopi telah membuatku lupa bahwa aku lah sang subjek. Aku lah yang menikmati kopi, aku lah sentral yang sesungguhnya. Bahwa kopi enak itu bukanlah kopi arabica, bukan kopi robusta, bukan pula liberika. Kopi enak adalah kopi yang kita bahagia karenanya.

Kopi enak adalah kopi yang kita bahagia karenanya.

Bagaimana kalau kita ngopi saja dulu. Soal apa kopinya dan bagaimana teknik menyeduhnya tidak lah penting. Bukankah kopi itu perekat kebersamaan dan pelumas pembicaraan seperti yang disampaikan pak Adi T. Pratjeka?

Sudahkah kawan nyeduh malam ini?

Nyeduh kopi nya 2 menitan, gilingnya kopi nya 10 menitan. Tak apa lah, yg penting bahagia.

A post shared by Haddad Sammir (@haddadsammir) on

Secangkir Kebahagiaan.

Momentum

Bagiku setiap hari pada dasarnya adalah hari yang sama. Yaitu suatu konsekuensi dari rotasi bumi sehingga kita mengalami pergantian siang dan malam. Bagi yang berada di kota Padang, pergantian siang dan malam ditandai dengan matahari berwarna jingga atau keperakan yang muncul malu-malu dari balik pegunungan pada pagi hari dan senja akan ditandai dengan matahari yang berwarna jingga atau merah, tenggelam dengan sedikit buru-buru di laut lepas.

Mengapa ada hari-hari spesial? Karena kita. Kita lah yang menciptakan hari-hari spesial!

Lalu bagaimana menjadikan sebuah hari menjadi hari spesial? Kita hanya perlu percaya ia spesial.

mr ping - to make something special

Dengan membuat sebuah hari spesial, kita membuat momentum dalam diri kita. Dan ya … kita butuh momentum. Saat berulang tahun, seseorang dapat membuat momentum bagi dirinya untuk bertransformasi. Saat hari raya adalah momentum bagi seseorang untuk mengunjungi sanak-saudara, melepas rindu dan saling memaafkan. Momentum memberikan kita kekuatan untuk memulai.

Begitu pula dengan tahun baru. Tahun baru dapat menjadi momentum bagi kita untuk melihat kembali ke tahun yang sudah usai. Apa yang sudah kita raih? Apa yang belum? Apa langkah berikutnya?

Aku tidak merayakan tahun baru. Tidak dalam arti mengganggap pergantian tahun adalah sesuatu yang terlalu spesial. Tapi tentu aku tidak menolak untuk berkumpul bersama kawan-kawan atau menikmati kembang api gratis. Kapan lagi?

Momentum

Puisi Cinta dan Jurus Jitu Thabo Menaklukkan Wanita

Peringatan! Essay ini hanyalah karangan belaka, kesamaan pelaku, tempat dan peristiwa hanyalah perasaan Anda saja.

Ngamuk? Marah? Kurang lebih itulah yang saya rasakan saat membaca kesepakatan cinta yang sudah sama-sama kawan tahu. Kalimat palsu! Aku cinta kamu sayang! Aku janji akan meningkatkan uang saku kamu. Iya, rumah ini rumah kita sayang, tapi kalau mau mengundang teman kamu harus izin aku dulu. Kamu boleh kok pulang malam, tapi harus izin aku dulu. Ah .. gombal. Kalau lah aku tidak berbela rasa dengan mereka yang mungkin saat ini masih jomblo semenjak lahir tentu aku akan murka dan mengutuki ‘cuma jomblo putus harapan yang percaya dengan kata-kata tersebut’. Tapi adik-adik mahasiswi kece yang sudah berpengalaman soal asmara sedjak kelas lima SD tentu paham kata-kata mesra di atas cuma omong kosong.

Tersebut dalam sebuah alkisah. Thabo kecil, seorang anak yang ditinggalkan orang tuanya. Ibunya dibawa oleh polisi saat ia berusia enam tahun dan tidak pernah kembali. Lalu Ayahnya meninggalkannya untuk mengadu nasib ke negri seberang dengan berprofesi sebagai perampok bank, namun tewas tertembak dalam sebuah aksi perampokan yang tidak terencana dengan baik. Berikutnya Thabo harus bertahan hidup dengan mencuri sebisanya di pelabuhan.

Singkat cerita Thabo akhirnya diasuh oleh seorang penyair spanyol yang sudah uzur. Penyair itu mengajari Thabo membaca dan memintanya untuk membacakan buku-buku sastra dan puisi cinta karena mata sang penyair spanyol sudah mulai terganggu hingga akhirnya buta total. Thabo tetap bersamanya hingga akhirnya penyair tersebut tutup usia dan Thabo mewarisi seluruh buku-buku puisi cintanya.

Pada usia 16 tahun Thabo sudah mulai tertarik dengan lawan jenisnya, namun butuh waktu dua tahun baginya untuk mendapatkan jurus jitu menaklukkan wanita yaitu: sepertiga senyuman menawan; sepertiga bualan tentang pengalamannya saat mengelilingi dunia yang belum pernah dilakukannya selain dalam khayalannya sendiri; dan sepertiga janji palsu tentang betapa abadinya cinta mereka. Jurus tersebut tidak hanya menyelamatkan hasrat seksualnya namun juga menyelamatkan hidupnya pada waktu-waktu berikutnya.

Oh .. baiklah. Aku sudah ceritakan kisah Thabo yang aku rangkum dari buku The Girl Who Saved The King of Sweden. Sejujurnya ini sebuah spoiler dan aku tidak ingin melanjutkanya lagi. Selain aku tidak ingin merugikan kawan-kawan yang belum membaca bukunya, poin yang aku maksud sudah sampai.

Ini soal kesepakatan cinta, karena sebelumnya Juliet (bukan nama sebenarnya) sudah marah-marah kepada Romeo (lagi-lagi ini  bukan nama sebenarnya) karena ketidak terbukaan Romeo dalam rumah tangga mereka (inipun juga cuma kiasan). Romeo yang sok kebapakkan tidak ingin Juliet terluka sehingga merasa perlu mengatur segala aspek kehidupan Juliet. Contohnya Romeo tidak ingin Juliet terpapar dengan konten negatif yang ada di internet, maka Romeo tidak menyediakan akses internet untuk Juliet.

Pada suatu hari yang ditentukan, Romeo dan Juliet duduk bersama membicarakan persoalan rumah tangga mereka dan menandatangani kesepakatan cinta yang mereka buat berdua. Kesepakatan cinta itu jelas hanya permainan kata-kata. Oh sungguh Romeo adalah reinkarnasi Thabo. Tidak ada hal lain yang akan melelehkan perempuan selain senyuman yang menawan, cerita-cerita bohong dan janji-janji palsu.

Tapi itulah cinta yang kadang-kadang tak ada logika (persis seperti yang dinyanyikan Agnes Monica). Juliet akhirnya mengalah (atau mungkin kalah). Aku tentu marah! Tapi siapalah aku. Cukup kisah itu menjadi pelajaran buatku bahwa tiga jurus jitu menaklukkan wanita pada dasarnya berlaku pula untuk menaklukkan pasar, menaklukkan pelanggan, menaklukkan para calon pemilih (dalam kampanye pemilu), dan tentu saja menaklukkan mahasiswa kreatif nakal.

Puisi Cinta dan Jurus Jitu Thabo Menaklukkan Wanita