2016, Catatan Akhir Tahun.

2016 kawan, seperti yang sudah aku ceritakan adalah tahun kopi. Seperti yang sudah aku ceritakan juga di awal tahun, tahun 2016 (sejauh ketika aku menulis blog itu dan bertahan hingga akhir tahun) adalah tahun dengan sedikit sekali momen yang dapat diabadikan. Tapi mungkin saja, momen yang sedikit itu adalah momen yang punya dampak besar di masa depan.

Tahun ini aku betemu dengan orang-orang baru, ya setiap tahun tentu aku bertemu dengan orang-orang baru, tapi tidak seperti tahun-tahun yang lalu, tahun ini aku bertemu dengan orang-orang “baru”, yang jauh berbeda dengan ku, dari gaya hidup dan terlebih lagi cara berpikir. Aku bersukur akan hal itu, pertemuan itu memberiku sudut padang yang baru dalam melihat ke luar diri dan lebih-lebih ke dalam diri ku.

Menjelang akhir tahun aku banyak berkumpul dengan teman-teman dekat semasa SMA. Boleh dikatakan bahwa teman-teman dekatku pada 12 tahun terakhir ini tidak berubah. Aku berada dalam kelompok yang sama dalam 12 tahun terakhir. Meskipun pertemuan kami dalam 12 tahun tersebut tidaklah teratur dan intens, tapi kami sadar sepenuhnya bahwa kami punya tempat yang sama untuk kembali.

Jika bulan Januari hingga Agustus adalah bulan yang penuh semangat, maka bulan “ber-ber”, September hingga Desember adalah bulan kontemplatif. Aku menghabiskan banyak waktu untuk melihat ke dalam. Aku akhirnya sampai kepada Carl Jung dan Isabel Briggs Myers. Aku menemukan tipe kepribadianku dan mendapatkan informasi lanjutan seputar karir dan hubungan (relationship) yang mengubah cara aku memandang diriku dan hal tersebut akan mejadi tujuan pencapaian ku di tahun mendatang.

16-personality

Perlu diingat bahwa tetap ada kritik terhadap klasifkasi Briggs Myers, aku menggunakannya sebagai kisaran umum yang mempermudah aku dalam memahami diriku. Jung sendiri mengatakan bahwa tidak ada yang murni introvert atau extrovert, setiap orang pada dasarnya berada pada sebuah spektrum.

Sudah sore tanggal 1 Januari 2017 ketika aku menulis ini. Aku tidak ingin berlama-lama dalam kenangan 2016. Untuk 2017 ini hanya ada satu kata: Prioritas. Aku tidak perlu lagi membuat rencana.

 

NB: Alternatif pandangan mengenai tipe kepribadian, Cari: Dario Nardi: “Neuroscience of Personality” | Talks at Google

Sumber gambar: http://www.truity.com/view/types
Makalah Dario Nardi: https://www.pdx.edu/sysc/sites/www.pdx.edu.sysc/files/neuro-systems.pdf

2016, Catatan Akhir Tahun.

2016, Aku Tidak Tahu dan Jangan Berspekulasi

23 Desember menuju tengah malam. Seperti biasa, akhir tahun adalah waktu yang tepat untuk berkontemplasi. Aku akan menghabiskan waktu ku untuk mengurung diri di kamar. Membaca kembali mind map dan catatan yang aku buat setahun sebelumnya lalu menggerutu ah .. selalu begitu ..

Menjelang akhir tahun ini aku mulai menghindari sosial media. Kawan-kawan pun mungkin melakukan hal yang sama. Aku melakukannya agar kemanusiaan ku tetap terjaga, hariku positif dan tekanan darah ku stabil. Pelarian dunia maya yang terbaik pada akhir tahun adalah blog dan feed reader.

Meskipun sepanjang tahun ini tidak begitu menyenangkan namun aku tetap mendapatkan banyak pelajaran. Diantaranya adalah: 1) aku membutuhkan lingkungan kerja yang fleksibel dengan kata lain aku tidak cocok kerja kantoran. 2) Kopi arabika itu enak. 3) Semua perempuan yang aku cenderung kepadanya semenjak SMP hingga sekarang punya karakteristik yang sama, 4) “Aku tidak tahu” adalah kunci menuju pengetahuan dan 5) Jangan berspekulasi, gunakan data.

Oke .. aku sudah mulai mengantuk. Kalau aku lanjutkan menulis, ceritaku bisa berantakan. Kalau aku lanjutkan besok, kalimat pembuka “23 Desember menuju tengah malam” sudah tidak valid lagi. Ini saja dulu.

2016, Aku Tidak Tahu dan Jangan Berspekulasi

Seduh dan Bahagialah.

Minum kopi buat ku bukan sekedar tentang menyeruputnya. Atau sekedar menikmati aroma dan mencicipi cita rasanya. Minum kopi adalah tentang mengapresiasi minuman berwarna gelap yang membuat kita bahagia.

Bagaimana cara mengapresiasinya? Tentu saja dengan menyeduh sendiri kopi kita.

Untuk menyeduh kopi hanya dibutuhkan air. Tepatnya air hangat. Didihkan air dan biarkan sebentar (1 – 2 menit). Metoda seduh, bebas. Yang penting mudah dan kita menikmatinya.

Beberapa waktu yang lalu aku mencoba menyeduh sendiri kopi Mendheiling di Kubik Koffie dengan metoda pour over. Trims untuk Abdol Jarot yang sudah memandu melalakukannya. Memang ini adalah pengalaman baru bagiku. Pada saat itu aku tidak mempedulikan bagaimana rasa kopi ku nantinya, yang penting aku melakukannya dan aku bahagia.

Dengan menyeduh sendiri, kita bisa menikmati fragrance kopi yang baru saja digiling. Lalu menikmati aroma kopi yang sedang dibasahkan. Tentu saja menikmati crema yang muncul dan terlihat saat air dituang melingkar secara perlahan. Dan pada akhirnya kita akan mengapresiasi kopi yang terhidang di depan kita.

"Bagaimana perasaan abang saat abang nyeduh kopi ini sendiri?" / "Bahagia, itu yg paling penting!"

A post shared by Haddad Sammir (@haddadsammir) on

 

Seduh dan Bahagialah.

Seperti Landen

Ini sih teman aku yang bilang waktu kami chatting kemarin sore. Aku mulai menulis blog ini 15 menit setelah pukul 1 dini hari, jadi kemarin sore yang aku maksud adalah 8 – 9 jam yang lalu.

Dari kemarin hingga malam ini Padang lembab dan hujan tak menentu. Hujan nya sendiri tidak lebat, gerimis dan hujan ringan saja. Suasana seperti itu yang teman aku itu bilang seperti landen. Maksudnya seperti London. Doi sih, belum pernah pergi ke London, paling cuma nonton film aja.

Bicara soal London, apakah ada kawan yang rindu dengan Baker Street 221B?

bakerstreet-221b

Seperti Landen

Secangkir Kebahagiaan.

Apa itu secangkir kebahagiaan? Tentu saja secangkir kopi. Minuman berwarna gelap yang sudah jadi temanku sejak akhir 90an. Waktu itu masih SMP, bagi alam bawah sadarku, kopi itu sangat lelaki. Apa lagi kopi pahit. Semakin pahit, maka semakin lelaki lah peminumnya. Hingga aku mengenal kopi arabica pada awal tahun 2016.

Istilah kopi arabica memang sudah sering aku dengar, tapi sekedar mendengarnya saja. Kopi itu ya kopi. Minuman beraroma nikmat dengan rasa pahit, oleh karena itu tambahkanlah gula biar sedikit manis. Singkat cerita, pertemuan ku dengan kopi arabica berawal dari mengunjungi parayaan imlek yang diadakan perkumpulan sosial HBT di gedung HBT kota Padang. Aroma kopi mulai tercium saat aku memasuki bagian kuliner, tepatnya di stand Mo Coffee. Tidak butuh waktu lama hingga mesin espresso menyita perhatianku.

Long black espresso blend Tanamera adalah kopi arabica specialty pertama yang aku coba. Reaksi ku saat itu adalah: Pahit, asam dan “oh .. benarkah kalian minum kopi tidak pakai gula?“.

Kopi arabica bukanlah sesuatu yang membuatku suka pada kali pertama. Hingga beberapa minggu pertama aku masih mengakui bahwa kopi robusta kapal laut yang aku minum selalu dari gelas legendaris adalah yang paling enak.  Tapi lambat laun aku mulai mengapresiasi kopi arabica. Kopi arabica membuat aku mendefinisikan kembali apa itu kopi. Apa yang diberikan kopi robusta adalah aroma kopi, selain kafein dalam dosis tinggi tentunya. Sedangkan apa yang diberikan kopi arabica adalah “cita rasa”.

Begitulah berlangsung hari demi hari, bulan demi bulan. Aku berpetualang dari kedai kopi ke kedai kopi. Mencoba kopi arabica dari berbagai penjuru nusantara. Tentu saja aku mendapatkan teman-teman baru. Teman-teman yang suka kopi, pemilik dan pengelola kedai kopi serta barista-baristawati yang selalu ramah dan menyenangkan diajak ngobrol.

Kebahagiaan tentu baru menjadi nyata jika ia dibagi. Selain ngopi sendiri, aku juga mengajak kawan-kawan untuk menikmati kopi arabica, kopi enak yang berbeda dengan yang biasa mereka nikmati di rumah. Tapi reaksi mereka tidaklah selalu positif. Tidak sedikit teman-teman yang menolak kopi arabica.

Oke .. soal selera tidak bisa dipaksakan. Tapi aku yakin bahwa ini lebih dari sekedar soal selera. Terlepas dari kopi arabica yang menawarkan cita rasa yang bervariasi, kopi arabica tetap adalah kopi yang baru dikenal oleh sebagian besar masyarakat kita. Masyarakat kita terbiasa dengan cita rasa pahit dan aroma yang menggoda dari kopi robusta. Kopi arabica tidak romantik dan tidak membangkitkan kembali kenangan yang indah. Tidak seperti ketika meminum kopi robusta yang mengembalikan kenangan akan kampung halaman, kenangan akan jati diri kita.

Akhrnya di penghujung tahun ini aku sadar bahwa selama ini aku terlalu kopi sentris. Petualanganku terhadap kopi telah membuatku lupa bahwa aku lah sang subjek. Aku lah yang menikmati kopi, aku lah sentral yang sesungguhnya. Bahwa kopi enak itu bukanlah kopi arabica, bukan kopi robusta, bukan pula liberika. Kopi enak adalah kopi yang kita bahagia karenanya.

Kopi enak adalah kopi yang kita bahagia karenanya.

Bagaimana kalau kita ngopi saja dulu. Soal apa kopinya dan bagaimana teknik menyeduhnya tidak lah penting. Bukankah kopi itu perekat kebersamaan dan pelumas pembicaraan seperti yang disampaikan pak Adi T. Pratjeka?

Sudahkah kawan nyeduh malam ini?

Nyeduh kopi nya 2 menitan, gilingnya kopi nya 10 menitan. Tak apa lah, yg penting bahagia.

A post shared by Haddad Sammir (@haddadsammir) on

Secangkir Kebahagiaan.

Menulis di Medium

Akhir pekan ini cukup santai. Aku punya cukup waktu untuk duduk di depan komputer, nonton film yang belum sempat ditonton serta menulis. Beberapa film yang aku tonton belakangan ini memang cukup inspiratif dan memberi banyak ide yang dapat aku tuangkan dalam tulisan. Oh ya … tapi bukan pada blog ini.

Aku sudah berkomitmen bahwa blog ini harus bebas dari ide-ide politik dan agama. Oleh karenanya aku perlu media lain untuk menuliskan topik-topik tersebut. Blog ini harus tetap woles dan santai biar tidak kena hap.

Tulisan-tulisan tersebut aku tulis di medium. Sebenarnya aku sudah lama bergabung di medium, namun baru beberapa hari belakangan aku aktif menulis di sana. Sejauh ini aku menulis ide-ide yang aku temukan pada film-film yang aku tonton seperti Kung Fu Panda dan Life of Pi. Ide-ide yang aku tulis berkaitan dengan kehidupan dan spiritualisme. Namun tentu aku menuliskannya dengan gaya bahasa yang (aku harapkan) tidak akan menyinggung perasaan teman-teman kita yang kurang ngopi atau ngebir.

Aku sebenarnya tidak ingin mengangkat topik yang berkaitan dengan interpretasi terhadap agama tertentu. Tapi aku sudah tidak tahan lagi. Ide-ide konyol yang disebarkan melalui sosial media dan kebijakan-kebijakan daerah tersebut harus dilawan. Namun perlawanannya harus elegan.

Artikel Richard Parker misalnya (yang merupakan petikan monolog pada film Life of Pi) telah aku beri cetak miring pada teks yang ingin aku beri penekanan.

My fear of him keeps me alert.
Tending to his needs gives my life purpose.

Sang harimau adalah metafora tentang keilahian. Ketakutan dan pengabdian kita terhadap ilahi memberi kita tujuan hidup. Bahwa spritualisme bekerja seperti itu. Aku menuliskan dengan lebih nakal pada artikel Ketakutan dan Tujuan Hidup. Namun sejauh ini aku tidak mau menulis dengan frontal. Selain tidak elegan, menulis secara frontal menyalahi zombie protocol yang aku buat (akan aku tulis nanti).

Pada akhirnya Medium adalah tempat ku untuk melempar ide-ide, sedangkan blog ini tetap menjadi wadah buat aku menuliskan momen-momen yang akan aku kenang pada tahun-tahun mendatang.

Menulis di Medium

2016, Sejauh ini.

Kita telah masuk pada bulan ke tiga tahun 2016. Ya benar, aku tidak menulis blog dalam dua bulan terakhir. Alasannya klasik lah: “sibuk”. Dari awal tahun aku memiliki kegiatan baru yang mengambil sangat banyak porsi waktu harianku. Aku ingin menguji seberapa tangguh diriku menghadapi rutinitas dan jawabannya aku tidak tanguh.

Tahun ini berjalan dengan sangat cepat dan dengan sangat sedikit momen untuk diabadikan. Tahun ini tidak ada jalan-jalan keliling Padang, tidak ada festival budaya, kecuali tentunya perayaan Imlek yang seperti biasanya sangat seru (ya aku harus buat pengecualian untuk hal ini) dan yang paling menyedihkan tidak ada berburu sunset lagi.

Sesekali aku memang menyempatkan diri untuk memotret sunset apabila aku melewati Pantai, namun tidak seperti tahun lalu. Tahun lalu aku mengalokasikan waktu khusus untuk memotret sunset. Tidak perlu peralatan mahal, sebagai seorang amatir aku hanya membutuhkan smartphone dengan kameranya. Tentunya tidak perlu aplikasi kamera 360  dan yang sejenisnya karena sunset itu sendiri sudah cantik!

Oh iya kawan, hari sudah sore saat aku menulis blog ini. Di luar sedang hujan dan udara terasa gerah. Teh hangat baru habis setengah cangkir. Pikiranku melompat-lompat tidak karuan. Harus aku akui aku merindukan tahun lalu.

 

2016, Sejauh ini.