Secangkir Kebahagiaan.

Apa itu secangkir kebahagiaan? Tentu saja secangkir kopi. Minuman berwarna gelap yang sudah jadi temanku sejak akhir 90an. Waktu itu masih SMP, bagi alam bawah sadarku, kopi itu sangat lelaki. Apa lagi kopi pahit. Semakin pahit, maka semakin lelaki lah peminumnya. Hingga aku mengenal kopi arabica pada awal tahun 2016.

Istilah kopi arabica memang sudah sering aku dengar, tapi sekedar mendengarnya saja. Kopi itu ya kopi. Minuman beraroma nikmat dengan rasa pahit, oleh karena itu tambahkanlah gula biar sedikit manis. Singkat cerita, pertemuan ku dengan kopi arabica berawal dari mengunjungi parayaan imlek yang diadakan perkumpulan sosial HBT di gedung HBT kota Padang. Aroma kopi mulai tercium saat aku memasuki bagian kuliner, tepatnya di stand Mo Coffee. Tidak butuh waktu lama hingga mesin espresso menyita perhatianku.

Long black espresso blend Tanamera adalah kopi arabica specialty pertama yang aku coba. Reaksi ku saat itu adalah: Pahit, asam dan “oh .. benarkah kalian minum kopi tidak pakai gula?“.

Kopi arabica bukanlah sesuatu yang membuatku suka pada kali pertama. Hingga beberapa minggu pertama aku masih mengakui bahwa kopi robusta kapal laut yang aku minum selalu dari gelas legendaris adalah yang paling enak.  Tapi lambat laun aku mulai mengapresiasi kopi arabica. Kopi arabica membuat aku mendefinisikan kembali apa itu kopi. Apa yang diberikan kopi robusta adalah aroma kopi, selain kafein dalam dosis tinggi tentunya. Sedangkan apa yang diberikan kopi arabica adalah “cita rasa”.

Begitulah berlangsung hari demi hari, bulan demi bulan. Aku berpetualang dari kedai kopi ke kedai kopi. Mencoba kopi arabica dari berbagai penjuru nusantara. Tentu saja aku mendapatkan teman-teman baru. Teman-teman yang suka kopi, pemilik dan pengelola kedai kopi serta barista-baristawati yang selalu ramah dan menyenangkan diajak ngobrol.

Kebahagiaan tentu baru menjadi nyata jika ia dibagi. Selain ngopi sendiri, aku juga mengajak kawan-kawan untuk menikmati kopi arabica, kopi enak yang berbeda dengan yang biasa mereka nikmati di rumah. Tapi reaksi mereka tidaklah selalu positif. Tidak sedikit teman-teman yang menolak kopi arabica.

Oke .. soal selera tidak bisa dipaksakan. Tapi aku yakin bahwa ini lebih dari sekedar soal selera. Terlepas dari kopi arabica yang menawarkan cita rasa yang bervariasi, kopi arabica tetap adalah kopi yang baru dikenal oleh sebagian besar masyarakat kita. Masyarakat kita terbiasa dengan cita rasa pahit dan aroma yang menggoda dari kopi robusta. Kopi arabica tidak romantik dan tidak membangkitkan kembali kenangan yang indah. Tidak seperti ketika meminum kopi robusta yang mengembalikan kenangan akan kampung halaman, kenangan akan jati diri kita.

Akhrnya di penghujung tahun ini aku sadar bahwa selama ini aku terlalu kopi sentris. Petualanganku terhadap kopi telah membuatku lupa bahwa aku lah sang subjek. Aku lah yang menikmati kopi, aku lah sentral yang sesungguhnya. Bahwa kopi enak itu bukanlah kopi arabica, bukan kopi robusta, bukan pula liberika. Kopi enak adalah kopi yang kita bahagia karenanya.

Kopi enak adalah kopi yang kita bahagia karenanya.

Bagaimana kalau kita ngopi saja dulu. Soal apa kopinya dan bagaimana teknik menyeduhnya tidak lah penting. Bukankah kopi itu perekat kebersamaan dan pelumas pembicaraan seperti yang disampaikan pak Adi T. Pratjeka?

Sudahkah kawan nyeduh malam ini?

Nyeduh kopi nya 2 menitan, gilingnya kopi nya 10 menitan. Tak apa lah, yg penting bahagia.

A post shared by Haddad Sammir (@haddadsammir) on

Advertisements
Secangkir Kebahagiaan.

One thought on “Secangkir Kebahagiaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s