2016, Aku Tidak Tahu dan Jangan Berspekulasi

23 Desember menuju tengah malam. Seperti biasa, akhir tahun adalah waktu yang tepat untuk berkontemplasi. Aku akan menghabiskan waktu ku untuk mengurung diri di kamar. Membaca kembali mind map dan catatan yang aku buat setahun sebelumnya lalu menggerutu ah .. selalu begitu ..

Menjelang akhir tahun ini aku mulai menghindari sosial media. Kawan-kawan pun mungkin melakukan hal yang sama. Aku melakukannya agar kemanusiaan ku tetap terjaga, hariku positif dan tekanan darah ku stabil. Pelarian dunia maya yang terbaik pada akhir tahun adalah blog dan feed reader.

Meskipun sepanjang tahun ini tidak begitu menyenangkan namun aku tetap mendapatkan banyak pelajaran. Diantaranya adalah: 1) aku membutuhkan lingkungan kerja yang fleksibel dengan kata lain aku tidak cocok kerja kantoran. 2) Kopi arabika itu enak. 3) Semua perempuan yang aku cenderung kepadanya semenjak SMP hingga sekarang punya karakteristik yang sama, 4) “Aku tidak tahu” adalah kunci menuju pengetahuan dan 5) Jangan berspekulasi, gunakan data.

Oke .. aku sudah mulai mengantuk. Kalau aku lanjutkan menulis, ceritaku bisa berantakan. Kalau aku lanjutkan besok, kalimat pembuka “23 Desember menuju tengah malam” sudah tidak valid lagi. Ini saja dulu.

Advertisements
2016, Aku Tidak Tahu dan Jangan Berspekulasi

Seduh dan Bahagialah.

Minum kopi buat ku bukan sekedar tentang menyeruputnya. Atau sekedar menikmati aroma dan mencicipi cita rasanya. Minum kopi adalah tentang mengapresiasi minuman berwarna gelap yang membuat kita bahagia.

Bagaimana cara mengapresiasinya? Tentu saja dengan menyeduh sendiri kopi kita.

Untuk menyeduh kopi hanya dibutuhkan air. Tepatnya air hangat. Didihkan air dan biarkan sebentar (1 – 2 menit). Metoda seduh, bebas. Yang penting mudah dan kita menikmatinya.

Beberapa waktu yang lalu aku mencoba menyeduh sendiri kopi Mendheiling di Kubik Koffie dengan metoda pour over. Trims untuk Abdol Jarot yang sudah memandu melalakukannya. Memang ini adalah pengalaman baru bagiku. Pada saat itu aku tidak mempedulikan bagaimana rasa kopi ku nantinya, yang penting aku melakukannya dan aku bahagia.

Dengan menyeduh sendiri, kita bisa menikmati fragrance kopi yang baru saja digiling. Lalu menikmati aroma kopi yang sedang dibasahkan. Tentu saja menikmati crema yang muncul dan terlihat saat air dituang melingkar secara perlahan. Dan pada akhirnya kita akan mengapresiasi kopi yang terhidang di depan kita.

 

Seduh dan Bahagialah.

Seperti Landen

Ini sih teman aku yang bilang waktu kami chatting kemarin sore. Aku mulai menulis blog ini 15 menit setelah pukul 1 dini hari, jadi kemarin sore yang aku maksud adalah 8 – 9 jam yang lalu.

Dari kemarin hingga malam ini Padang lembab dan hujan tak menentu. Hujan nya sendiri tidak lebat, gerimis dan hujan ringan saja. Suasana seperti itu yang teman aku itu bilang seperti landen. Maksudnya seperti London. Doi sih, belum pernah pergi ke London, paling cuma nonton film aja.

Bicara soal London, apakah ada kawan yang rindu dengan Baker Street 221B?

bakerstreet-221b

Seperti Landen

Secangkir Kebahagiaan.

Apa itu secangkir kebahagiaan? Tentu saja secangkir kopi. Minuman berwarna gelap yang sudah jadi temanku sejak akhir 90an. Waktu itu masih SMP, bagi alam bawah sadarku, kopi itu sangat lelaki. Apa lagi kopi pahit. Semakin pahit, maka semakin lelaki lah peminumnya. Hingga aku mengenal kopi arabica pada awal tahun 2016.

Istilah kopi arabica memang sudah sering aku dengar, tapi sekedar mendengarnya saja. Kopi itu ya kopi. Minuman beraroma nikmat dengan rasa pahit, oleh karena itu tambahkanlah gula biar sedikit manis. Singkat cerita, pertemuan ku dengan kopi arabica berawal dari mengunjungi parayaan imlek yang diadakan perkumpulan sosial HBT di gedung HBT kota Padang. Aroma kopi mulai tercium saat aku memasuki bagian kuliner, tepatnya di stand Mo Coffee. Tidak butuh waktu lama hingga mesin espresso menyita perhatianku.

Long black espresso blend Tanamera adalah kopi arabica specialty pertama yang aku coba. Reaksi ku saat itu adalah: Pahit, asam dan “oh .. benarkah kalian minum kopi tidak pakai gula?“.

Kopi arabica bukanlah sesuatu yang membuatku suka pada kali pertama. Hingga beberapa minggu pertama aku masih mengakui bahwa kopi robusta kapal laut yang aku minum selalu dari gelas legendaris adalah yang paling enak.  Tapi lambat laun aku mulai mengapresiasi kopi arabica. Kopi arabica membuat aku mendefinisikan kembali apa itu kopi. Apa yang diberikan kopi robusta adalah aroma kopi, selain kafein dalam dosis tinggi tentunya. Sedangkan apa yang diberikan kopi arabica adalah “cita rasa”.

Begitulah berlangsung hari demi hari, bulan demi bulan. Aku berpetualang dari kedai kopi ke kedai kopi. Mencoba kopi arabica dari berbagai penjuru nusantara. Tentu saja aku mendapatkan teman-teman baru. Teman-teman yang suka kopi, pemilik dan pengelola kedai kopi serta barista-baristawati yang selalu ramah dan menyenangkan diajak ngobrol.

Kebahagiaan tentu baru menjadi nyata jika ia dibagi. Selain ngopi sendiri, aku juga mengajak kawan-kawan untuk menikmati kopi arabica, kopi enak yang berbeda dengan yang biasa mereka nikmati di rumah. Tapi reaksi mereka tidaklah selalu positif. Tidak sedikit teman-teman yang menolak kopi arabica.

Oke .. soal selera tidak bisa dipaksakan. Tapi aku yakin bahwa ini lebih dari sekedar soal selera. Terlepas dari kopi arabica yang menawarkan cita rasa yang bervariasi, kopi arabica tetap adalah kopi yang baru dikenal oleh sebagian besar masyarakat kita. Masyarakat kita terbiasa dengan cita rasa pahit dan aroma yang menggoda dari kopi robusta. Kopi arabica tidak romantik dan tidak membangkitkan kembali kenangan yang indah. Tidak seperti ketika meminum kopi robusta yang mengembalikan kenangan akan kampung halaman, kenangan akan jati diri kita.

Akhrnya di penghujung tahun ini aku sadar bahwa selama ini aku terlalu kopi sentris. Petualanganku terhadap kopi telah membuatku lupa bahwa aku lah sang subjek. Aku lah yang menikmati kopi, aku lah sentral yang sesungguhnya. Bahwa kopi enak itu bukanlah kopi arabica, bukan kopi robusta, bukan pula liberika. Kopi enak adalah kopi yang kita bahagia karenanya.

Kopi enak adalah kopi yang kita bahagia karenanya.

Bagaimana kalau kita ngopi saja dulu. Soal apa kopinya dan bagaimana teknik menyeduhnya tidak lah penting. Bukankah kopi itu perekat kebersamaan dan pelumas pembicaraan seperti yang disampaikan pak Adi T. Pratjeka?

Sudahkah kawan nyeduh malam ini?

Secangkir Kebahagiaan.