Berguru Kepada Allan Karlsson

Allan Karlsson hanya punya waktu satu jam sebelum pesta ulang tahunnya yang keseratus dimulai. Wali Kota akan hadir. Pers akan meliput. Seluruh penghuni Rumah Lansia juga ikut merayakannya. Namun ternyata, justru yang berulang tahunlah yang tidak berniat datang ke pesta itu. Melompat lewat jendela kamarnya, Allan memutuskan untuk kabur. Dimulailah sebuah perjalanan luar biasa yang penuh dengan kegilaan.

Allan, tokoh fiksi dalam buku “The Hundred-Year-Old Man Who Climbed Out of The Window and Disappear” punya segudang pengalaman. Dengan dua keahlian khusus, membuat bom dan membuat vodka dari susu kabing ia berkelana mengelilingi dunia dan mengalami berbagai petualangan yang tentunya tidak asik saya ceritakan disini karena boleh jadi kawan-kawan ingin membaca sendiri kisahnya.

Setelah membaca buku tersebut, saya mendapatkan banyak hal menarik yang dapat kita ambil dari perjalanan panjang Allan Karlsson yang akan saya sampaikan dalam essay ini.

Essay ini mungkin berisi spoiler. Namun begitu, saya berusaha sebaik mungkin menghindarinya.

Semua yang akan terjadi, pasti terjadi.

Ini adalah pesan utama yang dapat kita ambil dari petualangan Allan. Bagi Allan, segala sesuatu berjalan seperti apa adanya, dan apapun yang akan terjadi, pasti terjadi. Tidak ada gunanya berkeluh kesah, jika tidak dapat mengubah keadaan, nikmati saja.

Tidak ada gunanya mereka-reka.

Ketika mengalami masalah, sering kali kita mencoba mengantisipasinya dengan mereka apa yang mungkin terjadi lalu kita mempersiapkan segala sesuatunya. Sejauh ini memang baik-baik saja. Jika kita mengetahui bahwa hujan akan turun, sudah semestinya kita meyediakan payung (bukankah sedia payung sebelum hujan?), namun ada kalanya kita dihadapkan pada situasi yang berada di luar pengetahuan kita dan mereka-reka apa yang akan terjadi hanya akan menimbulkan kecemasan yang tidak perlu.

Hindari amarah.

Oh, inilah sifat Allan yang paling saya kagumi. Ketenangannya dalam menghadapi masalah membuatnya dapat berpikir jernih dalam mengambil keputusan. Marah-marah tidak hanya memberitahu dunia bahwa kita kurang piknik, namun juga mengancam keselamatan kita dan orang-orang sekitar.

Allan sebenarnya pernah sekali sangat marah ketika, ah .. sebaiknya tidak saya ceritakan. Saya tidak ingin essay ini berisi spoiler.

Setiap masalah bisa diselesaikan dengan sebotol vodka, jika masalahnya terlalu rumit, mungkin butuh lebih dari satu botol.

Saya pikir Jonas Jonasson (penulis novel tersebut) tidak bermaksud mengajak pembacannya untuk minum minuman keras, begitu pula penerbit Bentang yang menerbitkan novel tersebut (juga menerbitkan novel ke dua Jonas yang berjudul The Girl Who Saved The King Of Sweden) tentu sadar bahwa menerbitkan sesuatu di negri yang relijius kurang santai ini perlu mempertimbangkan aspek moral. Namun saya melihat dari sudut pandang berbeda.

Saya melihat sulitnya mencapai kesepakatan adalah karena kita terlalu egois, kurang santai dan menaruh curiga pada orang lain. Sisitipsi berargumen bahwa kenapa bercengkrama bersama teman bisa happy adalah karena Alkohol (kamu jahat, tapi enak). Dalam kasusnya Allan, vodka selalu jadi penyelamat. Vodka pula lah yang merekatkan hubungan Allan dengan para pemimpin dunia. Allan bahkan berargumen bahwa konflik Palestina – Israel dapat diselesaikan dengan sebotol vodka, um .. mungkin butuh lebih banyak.

Tapi tentu tidak semua kita yang minum alkohol. Bagi yang tidak minum alkohol bisa minum kopi atau teh. Dan alkohol juga bisa untuk luka ringan.

Selalu melihat sisi positif dari setiap masalah.

Poin ini mengingatkan saya kepada bagaimana masyarakat Minang melihat sisi positif dari segala sesuatu.

Oi .. Si Jon tabrakan! Luka ringan. Ah .. Untung cuma luka ringan.
Oi .. Si Jon tabrakan! Masuk rumah sakit. Ah .. Untung tidak sampai meninggal.
Oi .. Si Jon tabrakan! Meninggal di tempat. Ah .. Untung langsung meninggal, tidak perlu menderita atau cacat seumur hidup.

Tapi tentu saja Allan bukan orang Minang.

Hidup ini adalah rangkaian kejadian-kejadian yang tidak terduga.

Petualangan Allan yang hari itu tepat berumur seratus tahun berawal dari mencoba melarikan diri dari rumah lansia, lalu terminal bis dan kemudian koper dan kemudian tidak akan saya lanjutkan karena yang belum membaca mungkin tidak ingin mendengarnya dari saya. Semuanya penuh kejadian-kejadian tak terduga. Kejadian kecil yang punya dampak sangat besar. Jadi, nikmati saja hidup ini!

Hindari perbincangan politik dan agama.

Menghindari perbincangan politik tidak lantas anti politik dan begitu pula dengan menghindari perbincangan agama tidak mesti benci agama (meskipun Allan sepertinya tidak relijius). Yang dimaksud disini boleh jadi perbincangan politik dan agama sering kali tidak memberi manfaat. Khusunya bagi saudara kita yang kurang minum alkohol piknik, perbincangan politik dan agama bisa menjadi masalah pribadi yang bahkan dapat menular ke anak cucu.

Bagi saya, Kisah Allan Karlsson merupakan kisah yang asik. Saya tidak sabar untuk menamatkan novelnya demi mengetahui kisah-kisah tak terduga apa lagi yang akan dialami Allan. Meskipun kita bisa mendapatkan ebook nya dengan mudah (dan gratis), namun sebaiknya beli juga lah novelnya. Dan semoga penerbit Bentang menerbitkan buku ke tiga Jonas.

Advertisements
Berguru Kepada Allan Karlsson

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s