Hujan, sebuah cerita.

Kawan mungkin masih ingat sebuah artkel pada blog ini yang berjudul “Datang Suka-Suka, Pergi Suka-Suka“. Artikel tersebut menceritakan tentang cuaca Padang yang mudah sekali berubah. Kemarin hal tersebut terulang kembali.

Sabtu sore kemarin berlangsung dengan asik. Cuaca asik, langit asik. Dan sekarang kabut asap sudah pergi dari kota Padang yang sesuai tradisi akan muncul kembali pada bulan Pebruari tahun depan atau setidaknya pada paruh akhir tahun depan meskipun tentu kita tidak mengharapkannya. Sore itu aku berangkat ke kampus untuk mengisi dua kelas untuk mata kuliah yang sama. Sesekali aku memandang keluar jendela kelas yang berada pada lantai dua itu dan menatap langit sore sambil berkata pada mahasiswa bahwa sunset sore ini akan indah. Ya kampus kami terletak tidak jauh dari Pantai Padang.

Kelas ke dua selesai pukul 18:30 – tidak sempat menikmati sunset yg seharusnya dinikmati pukul 18:10 -, setelah selesai beres-beres aku langsung menuju parkiran dan meluncur ke toko buku yang berada tidak sampai 300 meter dari kampus dengan satu kalimat yang melekat di kepala sejak aku berangkat tadi: “The Girl on the Train“. Adalah sebuah judul buku yang bulan ini masuk daftar buku yang akan dibeli. Kesulitan menemukan buku tersebut , aku langsung menuju komputer untuk melakukan pencarian. Ok stok bukunya kosong. Buku tersebut segera masuk daftar buku yang akan dibeli online.  Sebagai gantinya aku beli buku Inferno, dari Dan Brown.

Kejadian itu terulang kembali kawan. Di parkiran toko buku angin sudah mulai terasa kencang. Suhu udara turun dan tetes-tetes hujan mulai turun. Ini sebuah prinsip yang selalu aku pegang jika berada di luar dan cuaca akan hujan: segera cari tempat makan atau setidaknya kedai kopi! Kita tidak pernah tahu kapan hujan akan reda, dan menunggu hujan reda dengan perut kosong adalah tidak asik.

Segera aku meluncur daerah Kampung Cina, daerah favorit untuk makan-makan dan minum-minum dan main bilyar dan atau sekedar menikmati nuansa klasik kota Padang. Hujan sudah cukup lebat saat aku sampai di kedai kopi Ko Kris, tapi blm cukup lebat untuk bikin basah kuyup. Sambil menikmati secangkir kopi milo aku mulai mengamati suasana dan menikmati hujan yang turun malam itu.

Aku suka hujan, meskipun kadang merasa terganggu jika hendak beraktifitas di luar. Tapi aku tetap suka hujan. Untuk setiap kenangan yang melekat, sebagian besarnya adalah kenangan ketika hujan.

Malam itu aku duduk sendiri. Sendiri itu asik, semua indra ku jadi lebih hidup. Aku  bisa mengamati orang-orang yang berteduh, aku bisa mendengar lagu Dhyo Haw dinyanyikan di kedai kopi sebelah dan aku bisa mencium asap rokok kretek yang dibakar bapak di meja sebelah (aku tidak suka yang ini, bukan karena aku anti rokok, cuma tidak suka saja) dan lebih lagi pikiranku dapat mengembara pada kenangan indah pada waktu-waktu sebelum ini.

Aku pikir banyaknya kenangan disaat hujan adalah karena hujan menghambat langkah kita untuk beraktifitas keluar. Membuat orang-orang berkumpul dan melakukan aktifitas bersama. Tentu saja, suhu dingin yang dibawa oleh angin hujan membuat kita memilih untuk duduk lebih rapat agar lebih hangat. Jika ada gitar, kita akan bernyanyi bersama, jika ada kartu, kita akan main bersama. Apa lagi kalau ada kopi dan gorengan, ah … lengkap sudah.

Bagi yang berdua pun hujan akan memberikan suasana yang lebih asik. Muda-mudi yang memaksakan keluar di malam minggu yang sedang hujan itu bukan karena ada mantel jenis baru yang mudah robek dan dapat dibeli seharga Rp. 5000,- seperti yang disampaikan Kasmadi, melainkan karena berdua-duaan ketika hujan itu romantis. Kasmadi sepertinya harus coba hujan-hujanan sambil berduaan.

Saat sedang sendiripun hujan tak kalah asiknya. Rintik hujan (setidaknya buat ku) seolah mengajak untuk melihat ke dalam diri. Ia mengajak aku untuk melihat kembali semua duka dalam sudut pandang yang berbeda. Semakin aku dapat memahami duka, semakin aku merasa terbebas.

Sampai nanti ketika, hujan tak lagi meneteskan duka, meretas luka. Sampai hujan memulihkan luka. [1]

Sungguh kita perlu melihat jauh ke dalam diri. Menemukan kembali semua ketakutan dan pengharapan kita. Bahwa bersama memberikan kekuatan. Cinta memberikan harapan dan ketakutan menaklukkan kesombongan. Hujan mengembalikan kemanusiaan kita.

Satu jam kemudian hujan sudah reda meskipun masih tersisa gerimis ringan, kalau pulang tidak akan terlalu basah. Aku harus segera pulang, aku punya buku yang hendak dibaca. Bukan buku Inferno yang baru saja aku beli. Buku yang lain, Go Set A Watchman (Harper Lee), buku Inferno masih harus menunggu giliran.

Catatan:
[1] Efek Rumah Kaca, Desember. http://efekrumahkaca.net/en/multimedia/audio/category/1-efek-rumah-kaca

Advertisements
Hujan, sebuah cerita.

3 thoughts on “Hujan, sebuah cerita.

  1. [ASK]
    – Apa didalam ransel eiger yang abg bawa tidak ada lagi mantel seperti biasanya ? Hhihi
    – Kenapa harus menunggu hujan hingga reda ? jika saat hujan hanya akan membangkitkan kenangan-kenangan lama 😥 *baper

    Oh iya bg, tak selamanya sendiri itu asik :p

    Like

    1. Haddad Sammir says:

      [ANSWER]
      1. Yup .. mantel selalu sedia, begitu juga dengan rain coat eiger.
      2. Karena: “Aku selalu bahagia. Saat hujan turun. Karena aku dapat mengenangmu, untukku sendiri” … hahaha .. 😀

      Iya sih, gak selamanya sendiri itu asik, ada yang asik sambil berdua, ada yang asik bersama-sama. Tergantung situasi, kodisi dan toleransi aja. hihihi .. 😛

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s