Inersia

Tidak salah dari dulu Papa selalu bercerita tentang sulitnya mendorong sebuah mobil yang berada dalam keadaan diam, namun ketika ia sudah mulai bergerak, segala sesuatunya menjadi lebih mudah dan bahkan pada titik tertentu kita akan kesulitan untuk menghentikannya kembali. Pelajarannya, jika sudah memulai sesuatu dan menghentikannya, lalu kita ingin memulainya kembali, maka kita butuh usaha yang sama besarnya seperti ketika kita memulainya dari awal. Contohnya: blog ini.

Inersia atau yang juga dikenal sebagai kelembaman adalah: suatu ukuran mengenai resistansi (keenganan) dalam berubah gerak [1]. Hukum Kelembaman menyatakan bahwa sebuah benda yang bergerak dengan kecepatan tetap akan terus bergerak dengan kecepatan tersebut kecuali ada gaya resultan yang bekerja pada benda itu. Jika sebuah benda dalam keadaan diam, benda tersebut tetap diam kecuali ada gaya resultan yang bekerja pada benda. (Hukum Newton I tentang Gerak) [2].

Awal tahun ini saya memutuskan kembali menulis blog, setelah saya terinspirasi oleh blog Dr. Watson [3]. Idenya adalah sebuah blog pribadi dengan hal-hal pribadi, tidak membicarakan politik dan agama melainkan membicarakan seputar petualangan dan hal-hal indah dalam hidup. Namun karena satu dan lain hal yang memaksa saya fokus pada hal lain sehingga blog ini terabaikan.

Posting terakhir saya adalah pada tanggal 28 Pebruari. Setelah itu sunyi. Sebenarnya saya punya waktu untuk menulis blog, tapi ya itu dia, inersia pada kondisi tidak menulis blog membuat saya cenderung mempertahankan kondisi tersebut. Namun senja ini dalam kondisi cuaca kota Padang yang memasuki musim penghujan (setiap hari diguyur hujan) ditemani oleh secangkir teh biasa (teh spesial dari dataran tinggi kerinci sudah habis, namun teh ini tetap nikmat walau tidak senikmat teh kerinci) dan ditemani oleh lagu Menuju Senja oleh Payung Teduh [4] saya memutuskan untuk memecah keengganan dan melawan inersia. Ya .. Kembali menulis blog.

Posting ini adalah posting pengantar, saya berharap kepada diri saya semoga setelah ini saya semakin giat menulis, meskipun kadang keenganan sering menguasai saya. Saya perlu melatih diri melawan resistensi dan tentu saja melatih diri mengelola dan memanfaatkan resistensi. Seperti yang disampaikan oleh Seth Godin dalam Linchpin [5], resistensi (atau keengganan) dapat menuntun kita ke arah yang seharusnya. Ya, keenganan cenderung mengarah kepada kenyamanan dan tentu saja ketidak berhasilan. Sebaliknya semakin suatu pekerjaan memberikan rasa keengganan yang kuat, kita jadi tahu bahwa pekerjaan itu bisa membawa kita pada keberhasilan.

Catatan:

[1] http://www.kompasiana.com/hendradi/kelembaman_55188e79813311a0669defca

[2] http://brainly.co.id/tugas/40943

[3] http://www.johnwatsonblog.co.uk/

[4] https://www.youtube.com/channel/UCHFN6KKjg7pNeNkGEoH_WNQ

[5] http://www.goodreads.com/book/show/7155145-linchpin

Advertisements
Inersia

2 thoughts on “Inersia

  1. […] Saya sebagai seorang anak kos tentu sangat terpukul dengan kondisi ini. kenapa tidak karena serangan itu saya harus mengeluarkan dana lebih kurang Rp 1 jt, habis sudah uang bulanana saya . Namun ada efek yang paling menyakitkan yaitu memulai kembali seperti yang ditulis senior terhormat saya. […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s