Mahasiswa Indonesia Bersatulah! (Dengan Mahasiswi Indonesia)

demo1

Ada yang seru hari ini. Mahasiswa UPI-YPTK melakukan aksi damai! Ini peristiwa langka sebenarnya apa lagi karena ada peraturan yang kami mahasiswa UPI sama-sama tahu dan kami tidak ingin memberitahu Anda karena kami tetap ingin menjaga nama baik almamater. Peristiwa ini harus masuk dalam daftar hari penting dalam kalender keluarga besar kami.

Pada essay ini saya tidak ingin membahas detil tuntutan adik-adik saya, biarlah apa yang terjadi di dalam kampus tetap berada di dalam kampus. Sedangkan untuk informasi yanga bersifat umum, saya sarankan Anda membacanya langsung dari website resmi UKM Pers Gelegar.

Kampus adalah wadah untuk mengembangkan diri. Di kampus kita bertemu dengan teman-teman baru, ide-ide baru dan tentu saja tantangan-tantangan baru. Oleh karena itu, kebebasan berpikir dan berkreasi harus kita junjung tinggi. Maka perjuangkanlah segala sesuatu yang menjadi hak kita sedemikian rupa sehingga kita bisa menemukan dan menjadi diri kita sendiri.

Lebih dari itu, saya berargumen bahwa peran utama seorang mahasiswa adalah kontribusinya bagi ilmu pengetahuan (dan kemanusiaan tentunya). Kampus sebagi wadah hendaknya dapat memfasilitasi agar mahasiswa dapat berkarya, berkontribusi dan mengembangkan dirinya.

Kuliah itu asik. Salah satu alasan saya memilih menjadi dosen adalah karena saya tidak bisa move on dari dunia pendidikan. Saya mencintai ilmu pengetahuan. Saya suka belajar hal-hal baru dan tentu saja saya suka berada dekat-dekat dengan adik-adik mahasiswi yang lucu dan imut. Oh … nikmat kuliah mana lagi yang kamu dustakan?

Kampus adalah tempat yang (seharusnya) menyenangkan. Bila perlu ikutilah sebanyak mungkin kegiatan kampus. Perkaya diri kita dengan ilmu dan aktifitas bermanfaat. Dengan begitu semoga kita bisa menemukan diri kita dan menjadi diri kita sendiri.

Adik-adik, saya mendukung kalian melakukan aksi damai. Ya, aksi damai! Jangan sampai setitik kebodohan menggelapkan mata kita untuk melakukan vandalisme. Terbukalah terhadap kritik. Boleh jadi itu merupakan pelajaran berharga buat kita. Namun jika mungkin ada yang menghina dan menghujat aksi kalian, biarkan saja. Anggap saja angin lalu, karena boleh jadi mereka memang cuma angin lalu.

Catatan:
Judul diambil dari ending lagu “Mars Mahasiswa Indonesia” oleh The Panas Dalam pada salah satu konser mereka.
Berita aksi damai, dapat juga diakses di: https://archive.is/BsGNo

Advertisements
Mahasiswa Indonesia Bersatulah! (Dengan Mahasiswi Indonesia)

Berguru Kepada Allan Karlsson

Allan Karlsson hanya punya waktu satu jam sebelum pesta ulang tahunnya yang keseratus dimulai. Wali Kota akan hadir. Pers akan meliput. Seluruh penghuni Rumah Lansia juga ikut merayakannya. Namun ternyata, justru yang berulang tahunlah yang tidak berniat datang ke pesta itu. Melompat lewat jendela kamarnya, Allan memutuskan untuk kabur. Dimulailah sebuah perjalanan luar biasa yang penuh dengan kegilaan.

Allan, tokoh fiksi dalam buku “The Hundred-Year-Old Man Who Climbed Out of The Window and Disappear” punya segudang pengalaman. Dengan dua keahlian khusus, membuat bom dan membuat vodka dari susu kabing ia berkelana mengelilingi dunia dan mengalami berbagai petualangan yang tentunya tidak asik saya ceritakan disini karena boleh jadi kawan-kawan ingin membaca sendiri kisahnya.

Setelah membaca buku tersebut, saya mendapatkan banyak hal menarik yang dapat kita ambil dari perjalanan panjang Allan Karlsson yang akan saya sampaikan dalam essay ini.

Essay ini mungkin berisi spoiler. Namun begitu, saya berusaha sebaik mungkin menghindarinya.

Semua yang akan terjadi, pasti terjadi.

Ini adalah pesan utama yang dapat kita ambil dari petualangan Allan. Bagi Allan, segala sesuatu berjalan seperti apa adanya, dan apapun yang akan terjadi, pasti terjadi. Tidak ada gunanya berkeluh kesah, jika tidak dapat mengubah keadaan, nikmati saja.

Tidak ada gunanya mereka-reka.

Ketika mengalami masalah, sering kali kita mencoba mengantisipasinya dengan mereka apa yang mungkin terjadi lalu kita mempersiapkan segala sesuatunya. Sejauh ini memang baik-baik saja. Jika kita mengetahui bahwa hujan akan turun, sudah semestinya kita meyediakan payung (bukankah sedia payung sebelum hujan?), namun ada kalanya kita dihadapkan pada situasi yang berada di luar pengetahuan kita dan mereka-reka apa yang akan terjadi hanya akan menimbulkan kecemasan yang tidak perlu.

Hindari amarah.

Oh, inilah sifat Allan yang paling saya kagumi. Ketenangannya dalam menghadapi masalah membuatnya dapat berpikir jernih dalam mengambil keputusan. Marah-marah tidak hanya memberitahu dunia bahwa kita kurang piknik, namun juga mengancam keselamatan kita dan orang-orang sekitar.

Allan sebenarnya pernah sekali sangat marah ketika, ah .. sebaiknya tidak saya ceritakan. Saya tidak ingin essay ini berisi spoiler.

Setiap masalah bisa diselesaikan dengan sebotol vodka, jika masalahnya terlalu rumit, mungkin butuh lebih dari satu botol.

Saya pikir Jonas Jonasson (penulis novel tersebut) tidak bermaksud mengajak pembacannya untuk minum minuman keras, begitu pula penerbit Bentang yang menerbitkan novel tersebut (juga menerbitkan novel ke dua Jonas yang berjudul The Girl Who Saved The King Of Sweden) tentu sadar bahwa menerbitkan sesuatu di negri yang relijius kurang santai ini perlu mempertimbangkan aspek moral. Namun saya melihat dari sudut pandang berbeda.

Saya melihat sulitnya mencapai kesepakatan adalah karena kita terlalu egois, kurang santai dan menaruh curiga pada orang lain. Sisitipsi berargumen bahwa kenapa bercengkrama bersama teman bisa happy adalah karena Alkohol (kamu jahat, tapi enak). Dalam kasusnya Allan, vodka selalu jadi penyelamat. Vodka pula lah yang merekatkan hubungan Allan dengan para pemimpin dunia. Allan bahkan berargumen bahwa konflik Palestina – Israel dapat diselesaikan dengan sebotol vodka, um .. mungkin butuh lebih banyak.

Tapi tentu tidak semua kita yang minum alkohol. Bagi yang tidak minum alkohol bisa minum kopi atau teh. Dan alkohol juga bisa untuk luka ringan.

Selalu melihat sisi positif dari setiap masalah.

Poin ini mengingatkan saya kepada bagaimana masyarakat Minang melihat sisi positif dari segala sesuatu.

Oi .. Si Jon tabrakan! Luka ringan. Ah .. Untung cuma luka ringan.
Oi .. Si Jon tabrakan! Masuk rumah sakit. Ah .. Untung tidak sampai meninggal.
Oi .. Si Jon tabrakan! Meninggal di tempat. Ah .. Untung langsung meninggal, tidak perlu menderita atau cacat seumur hidup.

Tapi tentu saja Allan bukan orang Minang.

Hidup ini adalah rangkaian kejadian-kejadian yang tidak terduga.

Petualangan Allan yang hari itu tepat berumur seratus tahun berawal dari mencoba melarikan diri dari rumah lansia, lalu terminal bis dan kemudian koper dan kemudian tidak akan saya lanjutkan karena yang belum membaca mungkin tidak ingin mendengarnya dari saya. Semuanya penuh kejadian-kejadian tak terduga. Kejadian kecil yang punya dampak sangat besar. Jadi, nikmati saja hidup ini!

Hindari perbincangan politik dan agama.

Menghindari perbincangan politik tidak lantas anti politik dan begitu pula dengan menghindari perbincangan agama tidak mesti benci agama (meskipun Allan sepertinya tidak relijius). Yang dimaksud disini boleh jadi perbincangan politik dan agama sering kali tidak memberi manfaat. Khusunya bagi saudara kita yang kurang minum alkohol piknik, perbincangan politik dan agama bisa menjadi masalah pribadi yang bahkan dapat menular ke anak cucu.

Bagi saya, Kisah Allan Karlsson merupakan kisah yang asik. Saya tidak sabar untuk menamatkan novelnya demi mengetahui kisah-kisah tak terduga apa lagi yang akan dialami Allan. Meskipun kita bisa mendapatkan ebook nya dengan mudah (dan gratis), namun sebaiknya beli juga lah novelnya. Dan semoga penerbit Bentang menerbitkan buku ke tiga Jonas.

Berguru Kepada Allan Karlsson

Google+ Baru.

Pagi ini ada yang baru. Ketika saya sedang menikmati secangkir kopi sehabis sarapan sambil mengakses media sosial, saya mendapatkan Google+ mengubah user interface dan user experience nya. Tentu saja, terkait dengan user experience, perubahan tidak selamanya baik. Beberapa mungkin berdampak negatif. Contoh yang paling saya rasakan adalah perubahan yang diterapkan pada TweetDeck ketika diakuisisi oleh Twitter yang membuat saya mencari berbagai cara agar bisa mendapatkan kembali pengalaman (experience) ketika menggunakan tweetdeck yang lama.

Tapi tak apalah. Perubahan adalah keniscayaan, bukankah sekali tahun berganti, sekali musim bertukar? Namun pertanyaannya, apakah fungsionalitas juga ikut berubah?

gplus-baru

Saya sudah menggunakan Google+ tahun 2011 ketika bergabung dengan Google+ masih menggunakan invitation. Saya menemukan bahwa berbagi menggunakan Google+ sangat menyenangkan karena konsep circle yang membuat kita dapat berbagi hal tepat untuk orang yang tepat dengan mudah.

Ok, setelah saya melakukan beberapa pengujian, secara umum fungsionalitas Google+ baru tidak berubah. Namun saya mencatat ada beberapa experience yang berubah yaitu operasi menambahkan people ke dalam circle dan operasi pemilihan circle/people pada pembuatan post.

Menambahkan people dilakukan melalui tombol “FOLLOW”, lalu tombol FOLLOW akan berubah menjadi “FOLLOWING”. Selanjutnya kita bisa mengklik tombol FOLLOWING tersebut untuk memunculkan pilihan menambahkan people tersebut ke dalam circle atau untuk meng-unfollow nya.

Penulisan post dilakukan seperi biasa, namun untuk pengaturan sharing dilakuan dengan memilih link “Public” lalu pilih “See more”. Berikutnya kita bisa memilih circle atau people yang akan kita beri akses kepada post yang kita buat.

Google memindahkan foto ke layanan Google Photos , fitur “Collections” juga bertambah menarik serta tersedia pilihan untuk kembali ke Google+ yang lama. Selain itu mungkin ada perubahan lain namun luput dari perhatian saya karena saya menilai bahwa ciri utama Google+ ada pada fleksibilitas menentukan siapa yang berhak mengakses posting kita.

Sejauh ini saya melihat bahwa Google+ adalah media sosial yang keren. Lebih keren dari facebook dan twitter, lebih lagi karena Google+ terintegrasi dengan layanan Google yang lain. Namun saya menilai secara umum layanan Google kurang ramah terhadap pengguna biasa dan cenderung lebih cocok untuk pengguna berpengalaman yang memanfaatkan fitur tingkat lanjut (power user).

Tapi yang pasti saya menikmati menggunakan Google+. Bukan hanya karena saya intensif menggunakan layanan Google, namun juga karena saya tidak ingin sembarangan berbagi. Saya berhagi hal yang tepat, pada orang yang tepat.

 

Google+ Baru.

Kuliah Umum Computational Thinking.

Ini benar-benar telat dan saya akan menggunakan tag #latepost untuk posting ini. Seharusnya saya mempublikasi posting ini pada bulan Juni, namun terpaksa harus diundur karena beberapa hal dan saya menulis rasa penyesalan saya pada essay ini.

Pada tanggal 24 Juni 2015 saya berkesempatan memberikan kuliah umum di Politeknik Negri Padang. Saya membahas topik Computational Thinking yang menyita cukup banyak perhatian saya satu atau dua bulan sebelumnya.

Computational thinking menjadi topik menarik bagi saya adalah karena saya menilai bahwa kekuatan utama komputer dalam kaitannya dengan ilmu pengetahuan dan tentu saja kehidupan adalah kemampuan komputer untuk melakukan simulasi dan prediksi. Sedangkan untuk dapat mensimulasikan sebuah kondisi dan untuk memprediksi sebuah kejadian dibutuhkan serangkaian pemodelan masalah dalam struktur data serta algoritma penyelesaiannya sehingga dapat diproses oleh baik manusia maupun komputer. Topik-topik tersebut terangkum dalam computational thinking.

Tidak lupa saya mengucapkan terima kasih kepada Politeknik Negri Padang serta Bapak Ervan Asri atas undangan kuliah umum yang telah memberikan pengalaman yang luar biasa kepada saya.

Presentasi kuliah umum bisa diakses di: https://app.box.com/s/sujmos183qdkun7syfg70es0wi1xqvy9

compthink

Kuliah Umum Computational Thinking.

Menulis Blog.

Sejak siang aku tak kuasa menahan godaan langit Padang yang begitu cerah. Lewat pukul empat sore ketika aku punya kesempatan untuk keluar, tidak akan aku sia-sia kan. Aku mulai dengan menyusuri pantai Padang, dari sekitar Hotel Pangeran, terus berkendara hingga dipaksa belok kiri di Taman Budaya Padang V.2 karena sedang dalam proses pembangunan, lalu aku berbelok ke arah timur menuju Student Center Kampus UPI-YPTK untuk bertamu ke sektretariat UKM-Cybernetix.

Sejujurnya ingin sekali aku menikmati pantai Padang, namun semenjak pantai dikuasai para penyamun, aku sudah kehilangan gairah mengunjunginya. Tapi kampus UPI-YPTK juga tidak kalah asik, ok baiklah … mahasiswi-nya tidak kalah asik. Tentu saja kawan perlu duduk di tempat yang tepat dan pada waktu yang tepat.

Di tempat yang tepat dan pada waktu yang tepat aku sempat berbincang dengan Kasmadi. Kami membicarakan blog yang ditulis nya malam minggu kemarin dan aku telah menyampaikan secara langsung bahwa Kasmadi perlu merasakan sendiri hujan-hujan berduaan.

Kami sepakat bahwa menulis blog memberi ketenangan tersendiri. Dengan menulis blog kita melepaskan pemikiran yang membuat kita terbebas dari kondisi harus menyimpannya sendiri. Seperti misalnya Anggri Yulio yang menerbitkan Kampret dan Kopi pada hari yang sama di blog-nya.

Menulis blog memberi efek yang sama seperti menulis diary, meskipun tentu kita tidak perlu menulis hal pribadi di ranah publik. Mungkin karena menulis blog/diary secara tidak langsung mendorong kita untuk menerima apa yang kita tulis adalah sebuah realita dan melepaskannya dengan kesadaran bahwa ada hal-hal yang berada di luar kendali kita.

Blog sepertinya bisa menjadi solusi bagi kawan kita yang kurang piknik suka marah-marah di media sosial. Sesekali kawan dapat menuliskan keluh kesah kawan dalam bentuk blog. Menuliskan dengan terurut dan kronologis, dan semoga menemukan sudut pandang lain yang semoga pula menjauhkan kawan dari marah-marah.

Diskusi berlangsung dengan khidmat walaupun tidak khusyuk karena merasa perlu melirik mahasiswi-mahasiswi kece yang berhijab, setengah berhijab dan setengah tidak berhijab dan tidak setengah-setengah tidak berhijab yang diam-diam mungkin saja seorang agen rahasia yang tentunya tidak perlu kita bahas.

Menjelang senja perbincangan harus berpindah ke kedai Milk Shake karena satu hal yang tidak ingin aku sampaikan di blog ini. Kami mengajak Rian, Amirul dan Ai ke kedai Milk Shake dan berbincang untuk waktu yang tidak terlalu lama hingga akhirnya aku terpaksa meninggalkan kedai Milk Shake untuk menunaikan tugas negara dan untuk pulang ke rumah agar aku bisa makan malam dan menggunakan komputer untuk menulis essai ini.

Coba lah menulis blog agar hari kita semakin santai, dan hidup kita semakin selow. Trust me it works!

Menulis Blog.

Hujan, sebuah cerita.

Kawan mungkin masih ingat sebuah artkel pada blog ini yang berjudul “Datang Suka-Suka, Pergi Suka-Suka“. Artikel tersebut menceritakan tentang cuaca Padang yang mudah sekali berubah. Kemarin hal tersebut terulang kembali.

Sabtu sore kemarin berlangsung dengan asik. Cuaca asik, langit asik. Dan sekarang kabut asap sudah pergi dari kota Padang yang sesuai tradisi akan muncul kembali pada bulan Pebruari tahun depan atau setidaknya pada paruh akhir tahun depan meskipun tentu kita tidak mengharapkannya. Sore itu aku berangkat ke kampus untuk mengisi dua kelas untuk mata kuliah yang sama. Sesekali aku memandang keluar jendela kelas yang berada pada lantai dua itu dan menatap langit sore sambil berkata pada mahasiswa bahwa sunset sore ini akan indah. Ya kampus kami terletak tidak jauh dari Pantai Padang.

Kelas ke dua selesai pukul 18:30 – tidak sempat menikmati sunset yg seharusnya dinikmati pukul 18:10 -, setelah selesai beres-beres aku langsung menuju parkiran dan meluncur ke toko buku yang berada tidak sampai 300 meter dari kampus dengan satu kalimat yang melekat di kepala sejak aku berangkat tadi: “The Girl on the Train“. Adalah sebuah judul buku yang bulan ini masuk daftar buku yang akan dibeli. Kesulitan menemukan buku tersebut , aku langsung menuju komputer untuk melakukan pencarian. Ok stok bukunya kosong. Buku tersebut segera masuk daftar buku yang akan dibeli online.  Sebagai gantinya aku beli buku Inferno, dari Dan Brown.

Kejadian itu terulang kembali kawan. Di parkiran toko buku angin sudah mulai terasa kencang. Suhu udara turun dan tetes-tetes hujan mulai turun. Ini sebuah prinsip yang selalu aku pegang jika berada di luar dan cuaca akan hujan: segera cari tempat makan atau setidaknya kedai kopi! Kita tidak pernah tahu kapan hujan akan reda, dan menunggu hujan reda dengan perut kosong adalah tidak asik.

Segera aku meluncur daerah Kampung Cina, daerah favorit untuk makan-makan dan minum-minum dan main bilyar dan atau sekedar menikmati nuansa klasik kota Padang. Hujan sudah cukup lebat saat aku sampai di kedai kopi Ko Kris, tapi blm cukup lebat untuk bikin basah kuyup. Sambil menikmati secangkir kopi milo aku mulai mengamati suasana dan menikmati hujan yang turun malam itu.

Aku suka hujan, meskipun kadang merasa terganggu jika hendak beraktifitas di luar. Tapi aku tetap suka hujan. Untuk setiap kenangan yang melekat, sebagian besarnya adalah kenangan ketika hujan.

Malam itu aku duduk sendiri. Sendiri itu asik, semua indra ku jadi lebih hidup. Aku  bisa mengamati orang-orang yang berteduh, aku bisa mendengar lagu Dhyo Haw dinyanyikan di kedai kopi sebelah dan aku bisa mencium asap rokok kretek yang dibakar bapak di meja sebelah (aku tidak suka yang ini, bukan karena aku anti rokok, cuma tidak suka saja) dan lebih lagi pikiranku dapat mengembara pada kenangan indah pada waktu-waktu sebelum ini.

Aku pikir banyaknya kenangan disaat hujan adalah karena hujan menghambat langkah kita untuk beraktifitas keluar. Membuat orang-orang berkumpul dan melakukan aktifitas bersama. Tentu saja, suhu dingin yang dibawa oleh angin hujan membuat kita memilih untuk duduk lebih rapat agar lebih hangat. Jika ada gitar, kita akan bernyanyi bersama, jika ada kartu, kita akan main bersama. Apa lagi kalau ada kopi dan gorengan, ah … lengkap sudah.

Bagi yang berdua pun hujan akan memberikan suasana yang lebih asik. Muda-mudi yang memaksakan keluar di malam minggu yang sedang hujan itu bukan karena ada mantel jenis baru yang mudah robek dan dapat dibeli seharga Rp. 5000,- seperti yang disampaikan Kasmadi, melainkan karena berdua-duaan ketika hujan itu romantis. Kasmadi sepertinya harus coba hujan-hujanan sambil berduaan.

Saat sedang sendiripun hujan tak kalah asiknya. Rintik hujan (setidaknya buat ku) seolah mengajak untuk melihat ke dalam diri. Ia mengajak aku untuk melihat kembali semua duka dalam sudut pandang yang berbeda. Semakin aku dapat memahami duka, semakin aku merasa terbebas.

Sampai nanti ketika, hujan tak lagi meneteskan duka, meretas luka. Sampai hujan memulihkan luka. [1]

Sungguh kita perlu melihat jauh ke dalam diri. Menemukan kembali semua ketakutan dan pengharapan kita. Bahwa bersama memberikan kekuatan. Cinta memberikan harapan dan ketakutan menaklukkan kesombongan. Hujan mengembalikan kemanusiaan kita.

Satu jam kemudian hujan sudah reda meskipun masih tersisa gerimis ringan, kalau pulang tidak akan terlalu basah. Aku harus segera pulang, aku punya buku yang hendak dibaca. Bukan buku Inferno yang baru saja aku beli. Buku yang lain, Go Set A Watchman (Harper Lee), buku Inferno masih harus menunggu giliran.

Catatan:
[1] Efek Rumah Kaca, Desember. http://efekrumahkaca.net/en/multimedia/audio/category/1-efek-rumah-kaca

Hujan, sebuah cerita.

Inersia

Tidak salah dari dulu Papa selalu bercerita tentang sulitnya mendorong sebuah mobil yang berada dalam keadaan diam, namun ketika ia sudah mulai bergerak, segala sesuatunya menjadi lebih mudah dan bahkan pada titik tertentu kita akan kesulitan untuk menghentikannya kembali. Pelajarannya, jika sudah memulai sesuatu dan menghentikannya, lalu kita ingin memulainya kembali, maka kita butuh usaha yang sama besarnya seperti ketika kita memulainya dari awal. Contohnya: blog ini.

Inersia atau yang juga dikenal sebagai kelembaman adalah: suatu ukuran mengenai resistansi (keenganan) dalam berubah gerak [1]. Hukum Kelembaman menyatakan bahwa sebuah benda yang bergerak dengan kecepatan tetap akan terus bergerak dengan kecepatan tersebut kecuali ada gaya resultan yang bekerja pada benda itu. Jika sebuah benda dalam keadaan diam, benda tersebut tetap diam kecuali ada gaya resultan yang bekerja pada benda. (Hukum Newton I tentang Gerak) [2].

Awal tahun ini saya memutuskan kembali menulis blog, setelah saya terinspirasi oleh blog Dr. Watson [3]. Idenya adalah sebuah blog pribadi dengan hal-hal pribadi, tidak membicarakan politik dan agama melainkan membicarakan seputar petualangan dan hal-hal indah dalam hidup. Namun karena satu dan lain hal yang memaksa saya fokus pada hal lain sehingga blog ini terabaikan.

Posting terakhir saya adalah pada tanggal 28 Pebruari. Setelah itu sunyi. Sebenarnya saya punya waktu untuk menulis blog, tapi ya itu dia, inersia pada kondisi tidak menulis blog membuat saya cenderung mempertahankan kondisi tersebut. Namun senja ini dalam kondisi cuaca kota Padang yang memasuki musim penghujan (setiap hari diguyur hujan) ditemani oleh secangkir teh biasa (teh spesial dari dataran tinggi kerinci sudah habis, namun teh ini tetap nikmat walau tidak senikmat teh kerinci) dan ditemani oleh lagu Menuju Senja oleh Payung Teduh [4] saya memutuskan untuk memecah keengganan dan melawan inersia. Ya .. Kembali menulis blog.

Posting ini adalah posting pengantar, saya berharap kepada diri saya semoga setelah ini saya semakin giat menulis, meskipun kadang keenganan sering menguasai saya. Saya perlu melatih diri melawan resistensi dan tentu saja melatih diri mengelola dan memanfaatkan resistensi. Seperti yang disampaikan oleh Seth Godin dalam Linchpin [5], resistensi (atau keengganan) dapat menuntun kita ke arah yang seharusnya. Ya, keenganan cenderung mengarah kepada kenyamanan dan tentu saja ketidak berhasilan. Sebaliknya semakin suatu pekerjaan memberikan rasa keengganan yang kuat, kita jadi tahu bahwa pekerjaan itu bisa membawa kita pada keberhasilan.

Catatan:

[1] http://www.kompasiana.com/hendradi/kelembaman_55188e79813311a0669defca

[2] http://brainly.co.id/tugas/40943

[3] http://www.johnwatsonblog.co.uk/

[4] https://www.youtube.com/channel/UCHFN6KKjg7pNeNkGEoH_WNQ

[5] http://www.goodreads.com/book/show/7155145-linchpin

Inersia