Februari 2015

Terlepas dari dari jumlah hari pada bulan Februari ini yang hanya dua puluh delapan hari, namun bulan ini terasa berjalan cepat sekali. Mungkin karena ada banyak sekali acara pada bulan ini di Padang yang membuat saya teralihkan dan tiba-tiba saja sekarang sudah berada pada akhir bulan.

Bulan ini diawali oleh acara Ai Matsuri. Festival pertukaran dua budaya (Jepang – Minangkabau) yang diadakan pada tanggal 1 Februari di Taman Budaya Padang. Ada banyak pertunjukan yang ditampilkan pada acara tersebut. Mulai dari tarian hingga Cosplay. Saya sempat berfoto bersama salah satu karakter idola saya, Naruto. Sayang tidak ada Ksatria Baja Hitam.

Cosplay

Sayang saya belum sempat menulis blog mengenai festival Ai Matsuri.

Acara berikutnya di kota Padang adalah Pasar Malam Jie She Kongsi pada tanggal 4 Februari. Saya menulis blog mengenai acar tersebut di sini. Pada minggu-minggu pertama bulan Februari tersebut saya menghadiri ujian Kompre adik-adik saya di UKM IT Cybernetix, Rini, Yola dan Ike. Syukurlah ketiganya lulus dan akan diwisuda pada April tahun ini.

Malam perayaan Imlek tahun ini di Padang berpusat di Kelenteng. Malam itu ramai sekali. Bahkan berdiripun harus berdesakan. Banyak muda-mudi berfoto di halaman Kelenteng yang dihiasi lampion-lampion merah. Tidak ketinggalan pula lilin dan dupa.

Imlek

Dan yang paling seru pada bulan ini adalah jalan-jalan ke Pantai Air Manis. Jum’at sore 20 Februari, saya bersama Ayu Sang Fotografer, Yudi Tanjung (si Yudi ini suku nya sama dengan saya) serta Eel, adik saya di Cybernetix yang menghabiskan hari terjepit di Padang.

Sore itu indah sekali. Langit begitu cerah setelah beberapa hari sebelumnya Padang diguyur hujan sepanjang hari yang membuat suhu udara terasa lebih dingin dari biasanya. Hari Jum’at tersebut membantah predisksi BMKG mengenai cuaca buruk yang masih akan berlangsung.

Bersama Eel.

Senja di Pantai Air Manis tidak kalah indahnya. Beruntung sekali Eel yang sudah merantau ke Jakarta sejak 2012, menghabiskan liburan di Padang. Sunset senja itu jarang-jarang terjadi dan menjadi salah satu sunset paling indah yang pernah saya saksikan dalam hidup saya sejauh ini.

Sunset Emas dengan Pilar Matahari.

Sekarang sudah tanggal 28 Februari. Besok sudah bulan maret. Masih ada 10 bulan lagi sebelum tahun ini berakhir.

~~~

Pranala Luar:

Advertisements
Februari 2015

Kopi Pagi Ini.

Dari semalam hujan lebat. Hingga pagi ini hujan masih turun meskipun sudah terlihat lelah. Namun sepertinya hujan masih akan memaksakan dirinya turun hingga menjelang tengah hari nanti. Saat saya menulis blog ini kota Padang masih terlihat gelap, tapi sudah lebih terang dari pada pukul tujuh pagi tadi yang terasa seperti kedatangan Dementor.

Seperti biasanya, tidak ada yang lebih menyenangkan di pagi hari yang dingin dan malas ini, – apalagi sedang hujan – selain menikmati secangkir kopi.

Secangkir Kopi

Ini lah kopi saya. Dua sendok teh kopi dicampur dengan satu setengah sendok teh gula, diseduh dengan air mendidih – harus air mendidih – di gelas Nescafe – harus gelas Nescafe.

Gelas Nescafe ini gelas keramat. Dulunya adalah hadiah membeli kopi Nescafe + Creamer, dan selanjutnya sudah menjadi gelas kopi keramat saya apapun merek kopi yang diseduh.

Mungkin karena ukurannya pas dan paduan kopi, gula dan air mendidih yang pas menjadikan setiap kali minum kopi dengan gelas ini selalu menjadi momen yang spesial. Sedangkan untuk minum teh saya menggunakan gelas yang berbeda.

Selamat pagi, selamatkan pagi ini, masih ada waktu menikmati segelas kopi pagi.

Pranala luar:

Kopi Pagi Ini.

Pasar Malam Ji She Kongsi 2566

Ada yang berbeda dengan pasar malam pada perayaan Imlek di Padang tahun ini. Kalau yang sebelum-sebelumnya diadakan di dalam ruangan gedung HBT, maka pasar malam kali ini diadakan di luar ruangan, tepatnya di sekitar jalan Kelenteng dan halaman Kelenteng See Hin Kiong.

Rabu, 4 Februari 2015 adalah hari pertama pasar malam Ji She Kongsi. Selepas senja saya berangkat ke daerah Pondok. Saya akan bertemu dengan kolega-kolega saya di Kelenteng baru. Saya memarkir kendaraan di sekitar Pasar Tanah Kongsi sehingga saya perlu berjalan sekitar 100 meter untuk menuju Kelenteng baru. Malam itu sangat ramai dan pembukaan pasar malam sepertinya akan sangat meriah.

Sesampai di Kelenteng saya disuguhi oleh pemandangan lampu-lampu lampion. Indah sekali!

Lampion.

Continue reading “Pasar Malam Ji She Kongsi 2566”

Pasar Malam Ji She Kongsi 2566

Datang Suka-Suka, Pergi Suka-Suka.

Sore itu harusnya cerah. Angin hampir tidak berhembus, matahari bersinar terik dan awan enggan berkeliaran di langit. Sungguh sore itu tidak layak untuk dihabiskan dengan malas-malasan di rumah. Sejak siang saya sudah berkoordinasi dengan Ayu dan Ikhsan untuk berburu sunset, jadi sore itu selepas pukul empat sore saya sudah bergerak menuju sebuah kedai di kawasan pantai purus. Ayu sudah menunggu di sana dan Ikhsan akan menyusul. Sore itu Ikhsan sedang berada di kedai arlojinya di Pasar Raya.

Karena sore itu panas sekali, perburuan sunset baru kami mulai pukul enam. Kami mulai berjalan dari persimpangan Jl. Olo ladang dengan Jl. Samudera. Cukup jauh menunju pusat wisata di pantai Purus sebenarnya, tapi karena pikiran yang riang, jarak menjadi tidak begitu terasa. Sesampainya di depan Rusunawa Purus, kami mulai mengambil gambar.

Pantai.

Continue reading “Datang Suka-Suka, Pergi Suka-Suka.”

Datang Suka-Suka, Pergi Suka-Suka.