Kembali ke Peradaban

Istilah kembali ke peradaban pertama sekali saya gunakan kurang lebih satu minggu pasca gempa besar Padang – Pariaman, 30 September 2009. Ketika itu listrik kembali mengaliri kelurahan kami setelah sebelumnya terputus akibat gempa. Kembali ke peradaban adalah kembali dapat menggunakan komputer dan internet.

Saya kembali menggunakan istilah tersebut kali ini setelah hampir sembilan jam listrik padam dan membuat saya terputus dari komputer dan internet.

Sekitar pukul 09:30 sabtu pagi. Saya sedang mengumpulkan informasi mengenai “Federated Social Web” – bisa diakses di pinterest saya, sambil menikmati kopi pagi menunggu tayangan favorit saya: Para Petualang Cantik. Saat itu lah listrik padam.

Biasanya listrik padam tidak lama. Kalaupun ada pemadaman bergilir, paling lama tiga jam listrik sudah mengalir kembali. Namun hari ini berbeda. Ada penggantian kabel di kelurahan saya yang menyebabkan hari ini listrik padam lebih lama dari biasanya.

Cuaca hari ini hujan dari pagi hingga senja, saya kesulitan keluar rumah padahal saya sudah mengirim SMS ke Ayu, mengajak dia foto-foto di Pasar Raya Padang, tempat favorit saya mengamati orang-orang. Sebagai gantinya, hari ini saya habiskan dengan membaca.

Saya membaca dua jurnal dan dua artikel yang membahas berpikir komputasi (saya sedang melakukan studi tentang topik tersebut), tiga petualangan Sherlock Holmes dan hampir menamatkan Novel Padang Bulan, Andrea Hirata. Novel tersebut sudah bertahun-tahun jadi penghuni lemari buku saya namun belum sempat saya tamatkan.

Ketika membaca novel Padang Bulan, saya kembali menemukan daftar penyakit gila seperti yang terlebih dahulu saya temukan pada Laskar Pelangi. Kali ini saya mencatat penyakit gila nomor 31: terobsesi dengan rahasia, spionase, penyamaran, sadap menyadap serta endap-mengendap. Penyakit ini rasanya tidak asing bagi saya, karena boleh jadi saya mengidap penyakit gila ini, walaupun tidak seakut M. Nur sang detektif swasta.

Bicara soal detektif dan agen rahasia sebenarnya ini cerita lama bersama Rizkiwu. Teman sewaktu kuliah S1 dulu. Kami sama-sama tergila-gila dengan Jason Bourne. Kami menyukai teknik bela dirinya yang efektif, dan terlebih lagi teknik deduksinya. Salah satu teori Rizkiwu pada tahun 2010 adalah: Kita bisa menentukan status kejombloan seorang gadis dengan memperhatikan kemana dia menggeraikan rambutnya. Gadis jomblo menggeraikan rambutnya ke depan dada. Saya tidak tahu dari mana ia mendapatkan data, dan metoda statistik yang digunakannya namun karena selain menderita penyakit gila nomor 31, saya juga menderita penyakit gila nomor 32 yaitu menanggapi orang yang sakit gila nomor 31, saya percaya saja.

Selain mencatat beberapa hal menarik pada novel Padang Bulan, saya juga mencatat beberapa hal menarik yang saya temukan pada jurnal A Unified Approach to Teach Computational Thinking for First Year Non–CS Majors in an Introductory Course seperti topik studi ilmu komputer yang dapat membantu pemahaman berpikir komputasi serta tools seperti Raptor dan Alice yang dapat menjadi alat bantu untuk memahami komputasi, namun sepertinya akan saya bahas lain waktu. Sudah hampir pukul sebelas malam dan saya masih punya beberapa halaman lagi sebelum novel Padang Bulan saya tamatkan.

Pranala Luar:

Advertisements
Kembali ke Peradaban

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s