Pasar Raya Padang

Ketika kecil dulu, selain Pantai Padang dan Taman Melati, saya paling suka jika diajak mama dan tante-tante saya ke Pasar Raya Padang. Pasar yang berada di pusat kota Padang tersebut adalah tempat yang menyenangkan. Tentu saja, karena ada banyak penjual mainan di sana dan tempat bermain yang seingat saya bernama “Stanza”. Jika main ke Stanza, mandi bola adalah wahana permainan yang selalu masuk dalam daftar.

Waktu berlalu dan mengubah banyak hal. “Waktu memakan segalanya, burung, binatang, pohon dan bunga; Mengerat besi, mengigit baja; Batu yang keraspun digilingnya; Membunuh raja, menghancurkan kota; Meruntuhkan gunung sampai rata.”. Saya kutip dari blog Anggri yang merupakan jawaban teka-teki yang diberikan Gollum kepada Bilbo dan Pasar Raya Padang pun kini telah dimakan waktu.

Tanggal 26 Desember tahun lalu, saya bersama Yudi, Ikhsan dan Ayu “bertamasya” ke Pasar Raya Padang. Saya sengaja menggunakan kata “bertamasya” karena sore itu kami memang ingin menikmati pemandangan pasar raya. Kami memulai perjalan dari Indah Arloji, kedai Jam nya Ikhsan, naik ke jembatan penyeberangan dan mengambil beberapa gambar di sana.

Pemandangan Arah Utara Pasar Raya Padang.

Bagunan yang tampak pada sebelakah kanan foto di atas adalah Pasar Raya Timur. Di lantai dua-nya ada toko buku loak. Ketika SMA saya cukup sering main ke sana. Para penjual buku menetapkan harga dengan mekanisme yang aneh yang sering kali menguntungkan saya. Saya pernah membeli buku Tom Clancy, The Sum of All Fears dengan kualitas baik seharga Rp. 30.000,-.

Jika terus ke arah utara, setelah pertigaan, kita akan sampai di jalan Permindo. Dahulu sekitar awal tahun 2000an, Jalan Permindo sangat terkenal di kalangan anak-anak remaja. Banyak yang bolos sekolah atau sekedar nongkrong di sana. Di sepanjang jalan banyak penjual CD/VCD bajakan. Saat itu CD/VCD sedang naik-naiknya. Pergantian milenium, lima belas tahun yang lalu menjadi awal peralihan dari kaset ke CD.

Pemandangan Arah Selatan Pasar Raya Padang

Berputar 180°, ke arah selatan kita akan melihat Bukit Gado-Gado sebagai latar belakang. Jika terus berjalan ke depan, kita akan sampai pada jalan Hiligoo. Jalan itu sangat klasik. Ada banyak bangunan tua di sana. Di jalan Hiligoo ada banyak sekali toko sepatu. Sewaktu kecil saya selalu membeli sepatu di toko-toko di sepanjang jalan itu.

Baik memandang ke utara maupun ke selatan, Pasar Raya Padang terlihat semrawut dan tidak terurus. Saya tidak mengingat dengan pasti, kapan pasar ini mulai semrawut. Namun saya kira peristiwa gempa besar yang megguncang pesisir barat Padang pada tanggal 30 Septeber 2009 telah memberi andil yang besar.

Beberapa foto berikut memperlihatkan pemandangan pasar dari atas:

Pasar Raya Padang
Pasar Raya Padang
Pasar Raya Padang
Pasar Raya Padang
Pasar Raya Padang

Saya senang berkunjung ke pasar. Saya senang memperhatikan orang-orang di pasar dan memperhatikan interaksi orang-orang yang berbelanja. Meminjam istilah Andrea Hirata, pasar bagi saya adalah laboratorium sosiologi dan psikologi. Berada di pasar sering membuat saya tersenyum-senyum sendiri saat melihat pedagang menjajakan daganganya dengan meneriakkan harga: “Sapuluah ribu .. sapuluah ribu!!” tanpa memberi informasi tentang “apa” barang dagangannya seolah “harga yang murah” menarik pembeli yang mungkin tidak punya rencana membeli barang tersebut.

Kini Pasar Raya Padang telah rusak dimakan waktu. Besar harapan saya Pasar Raya Padang dapat kembali seperti dulu. Menjadi tempat yang rapi, terawat, tertib dan dapat menjadi tempat rekreasi yang menyenangkan.

Pranala Luar:

Advertisements
Pasar Raya Padang

One thought on “Pasar Raya Padang

  1. […] Sore itu harusnya cerah. Angin hampir tidak berhembus, matahari bersinar terik dan awan enggan berkeliaran di langit. Sungguh sore itu tidak layak untuk dihabiskan dengan malas-malasan di rumah. Sejak siang saya sudah berkoordinasi dengan Ayu dan Ikhsan untuk berburu sunset, jadi sore itu selepas pukul empat sore saya sudah bergerak menuju sebuah kedai di kawasan pantai purus. Ayu sudah menunggu di sana dan Ikhsan akan menyusul. Sore itu Ikhsan sedang berada di kedai arlojinya di Pasar Raya. […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s