Kelenteng

Dari Pantai Padang, jika Pembaca terus mengikuti jalan Samudra, setelah itu masuk ke jalan Batang Arau dan jika Pembaca patuh pada rambu lalu lintas, maka Pembaca akan sampai di jalan Kelenteng. Disebut jalan Kelenteng karena di situ berdiri Kelenteng See Hin Kiong, Kelenteng tertua di kota Padang.

Di dekat Kelenteng See Hin Kiong terdapat Kelenteng baru. Kelenteng baru tersebut lah yang saya dan kolega saya kunjungi. Malam itu Kelenteng tidak terlalu ramai. Tidak ada warga yang sedang Sembahyang dan pengunjung Kelenteng adalah kami-kami yang menyukai tempat-tempat unik.

Jalan menuju Kelenteng dihiasi oleh lampion.
Anak-anak muda di parkiran Kelenteng.

Suasana disepanjang jalan itu selalu ramai. Bangunan di sebelah kiri yang ada tulisan “HBT” adalah gedung Himpunan Bersatu Teguh. Setahu saya sudah beberapa tahun terakhir ini setiap kali Imlek HBT mengadakan bazar dan banyak sekali acara menarik.

Gedung HBT saat itu tidak terlalu ramai, namun dari luar terdengar suara alat musik yang digunakan pada pertunjukan Barongsai. Mungkin sekelompok pemuda sedang latihan untuk meyambut tahun baru Imlek.

Naga.

Setiap kali melihat patung naga di atas saya selalu teringat Kungfu Panda. Saya sering tersenyum geli ketika membayangkan ada “perkamen naga” di mulut patung naga tersebut. Di bawah patung naga tersebut ada kolam kecil yang tentu saja menambah kemiripannya. Tapi mungkin memang begitu desainnya, saya tidak tahu.

Beranda Kelenteng.
Kelenteng
Lonceng.
Kelenteng

Malam itu cerah, sedikit gerah. Menyenangkan sekali berangin-angin di pekarangan Kelenteng. Sesekali angin berembus membawa aroma dupa, membuat saya merasa seolah tidak sedang berada di Padang. Sebelum kelenteng ditutup kami berjalan-jalan dan mengambil beberapa gambar di sekitar Kelenteng. Silahkan lihat di sini. Malam yang mengasikkan itu adalah Selasa malam, 27 Januari 2015.

Kelenteng

Kembali ke Peradaban

Istilah kembali ke peradaban pertama sekali saya gunakan kurang lebih satu minggu pasca gempa besar Padang – Pariaman, 30 September 2009. Ketika itu listrik kembali mengaliri kelurahan kami setelah sebelumnya terputus akibat gempa. Kembali ke peradaban adalah kembali dapat menggunakan komputer dan internet.

Saya kembali menggunakan istilah tersebut kali ini setelah hampir sembilan jam listrik padam dan membuat saya terputus dari komputer dan internet.

Sekitar pukul 09:30 sabtu pagi. Saya sedang mengumpulkan informasi mengenai “Federated Social Web” – bisa diakses di pinterest saya, sambil menikmati kopi pagi menunggu tayangan favorit saya: Para Petualang Cantik. Saat itu lah listrik padam.

Biasanya listrik padam tidak lama. Kalaupun ada pemadaman bergilir, paling lama tiga jam listrik sudah mengalir kembali. Namun hari ini berbeda. Ada penggantian kabel di kelurahan saya yang menyebabkan hari ini listrik padam lebih lama dari biasanya.

Cuaca hari ini hujan dari pagi hingga senja, saya kesulitan keluar rumah padahal saya sudah mengirim SMS ke Ayu, mengajak dia foto-foto di Pasar Raya Padang, tempat favorit saya mengamati orang-orang. Sebagai gantinya, hari ini saya habiskan dengan membaca.

Saya membaca dua jurnal dan dua artikel yang membahas berpikir komputasi (saya sedang melakukan studi tentang topik tersebut), tiga petualangan Sherlock Holmes dan hampir menamatkan Novel Padang Bulan, Andrea Hirata. Novel tersebut sudah bertahun-tahun jadi penghuni lemari buku saya namun belum sempat saya tamatkan.

Ketika membaca novel Padang Bulan, saya kembali menemukan daftar penyakit gila seperti yang terlebih dahulu saya temukan pada Laskar Pelangi. Kali ini saya mencatat penyakit gila nomor 31: terobsesi dengan rahasia, spionase, penyamaran, sadap menyadap serta endap-mengendap. Penyakit ini rasanya tidak asing bagi saya, karena boleh jadi saya mengidap penyakit gila ini, walaupun tidak seakut M. Nur sang detektif swasta.

Bicara soal detektif dan agen rahasia sebenarnya ini cerita lama bersama Rizkiwu. Teman sewaktu kuliah S1 dulu. Kami sama-sama tergila-gila dengan Jason Bourne. Kami menyukai teknik bela dirinya yang efektif, dan terlebih lagi teknik deduksinya. Salah satu teori Rizkiwu pada tahun 2010 adalah: Kita bisa menentukan status kejombloan seorang gadis dengan memperhatikan kemana dia menggeraikan rambutnya. Gadis jomblo menggeraikan rambutnya ke depan dada. Saya tidak tahu dari mana ia mendapatkan data, dan metoda statistik yang digunakannya namun karena selain menderita penyakit gila nomor 31, saya juga menderita penyakit gila nomor 32 yaitu menanggapi orang yang sakit gila nomor 31, saya percaya saja.

Selain mencatat beberapa hal menarik pada novel Padang Bulan, saya juga mencatat beberapa hal menarik yang saya temukan pada jurnal A Unified Approach to Teach Computational Thinking for First Year Non–CS Majors in an Introductory Course seperti topik studi ilmu komputer yang dapat membantu pemahaman berpikir komputasi serta tools seperti Raptor dan Alice yang dapat menjadi alat bantu untuk memahami komputasi, namun sepertinya akan saya bahas lain waktu. Sudah hampir pukul sebelas malam dan saya masih punya beberapa halaman lagi sebelum novel Padang Bulan saya tamatkan.

Pranala Luar:

Kembali ke Peradaban

Pasar Raya Padang

Ketika kecil dulu, selain Pantai Padang dan Taman Melati, saya paling suka jika diajak mama dan tante-tante saya ke Pasar Raya Padang. Pasar yang berada di pusat kota Padang tersebut adalah tempat yang menyenangkan. Tentu saja, karena ada banyak penjual mainan di sana dan tempat bermain yang seingat saya bernama “Stanza”. Jika main ke Stanza, mandi bola adalah wahana permainan yang selalu masuk dalam daftar.

Waktu berlalu dan mengubah banyak hal. “Waktu memakan segalanya, burung, binatang, pohon dan bunga; Mengerat besi, mengigit baja; Batu yang keraspun digilingnya; Membunuh raja, menghancurkan kota; Meruntuhkan gunung sampai rata.”. Saya kutip dari blog Anggri yang merupakan jawaban teka-teki yang diberikan Gollum kepada Bilbo dan Pasar Raya Padang pun kini telah dimakan waktu.

Tanggal 26 Desember tahun lalu, saya bersama Yudi, Ikhsan dan Ayu “bertamasya” ke Pasar Raya Padang. Saya sengaja menggunakan kata “bertamasya” karena sore itu kami memang ingin menikmati pemandangan pasar raya. Kami memulai perjalan dari Indah Arloji, kedai Jam nya Ikhsan, naik ke jembatan penyeberangan dan mengambil beberapa gambar di sana.

Pemandangan Arah Utara Pasar Raya Padang.

Bagunan yang tampak pada sebelakah kanan foto di atas adalah Pasar Raya Timur. Di lantai dua-nya ada toko buku loak. Ketika SMA saya cukup sering main ke sana. Para penjual buku menetapkan harga dengan mekanisme yang aneh yang sering kali menguntungkan saya. Saya pernah membeli buku Tom Clancy, The Sum of All Fears dengan kualitas baik seharga Rp. 30.000,-.

Jika terus ke arah utara, setelah pertigaan, kita akan sampai di jalan Permindo. Dahulu sekitar awal tahun 2000an, Jalan Permindo sangat terkenal di kalangan anak-anak remaja. Banyak yang bolos sekolah atau sekedar nongkrong di sana. Di sepanjang jalan banyak penjual CD/VCD bajakan. Saat itu CD/VCD sedang naik-naiknya. Pergantian milenium, lima belas tahun yang lalu menjadi awal peralihan dari kaset ke CD.

Pemandangan Arah Selatan Pasar Raya Padang

Berputar 180°, ke arah selatan kita akan melihat Bukit Gado-Gado sebagai latar belakang. Jika terus berjalan ke depan, kita akan sampai pada jalan Hiligoo. Jalan itu sangat klasik. Ada banyak bangunan tua di sana. Di jalan Hiligoo ada banyak sekali toko sepatu. Sewaktu kecil saya selalu membeli sepatu di toko-toko di sepanjang jalan itu.

Baik memandang ke utara maupun ke selatan, Pasar Raya Padang terlihat semrawut dan tidak terurus. Saya tidak mengingat dengan pasti, kapan pasar ini mulai semrawut. Namun saya kira peristiwa gempa besar yang megguncang pesisir barat Padang pada tanggal 30 Septeber 2009 telah memberi andil yang besar.

Beberapa foto berikut memperlihatkan pemandangan pasar dari atas:

Pasar Raya Padang
Pasar Raya Padang
Pasar Raya Padang
Pasar Raya Padang
Pasar Raya Padang

Saya senang berkunjung ke pasar. Saya senang memperhatikan orang-orang di pasar dan memperhatikan interaksi orang-orang yang berbelanja. Meminjam istilah Andrea Hirata, pasar bagi saya adalah laboratorium sosiologi dan psikologi. Berada di pasar sering membuat saya tersenyum-senyum sendiri saat melihat pedagang menjajakan daganganya dengan meneriakkan harga: “Sapuluah ribu .. sapuluah ribu!!” tanpa memberi informasi tentang “apa” barang dagangannya seolah “harga yang murah” menarik pembeli yang mungkin tidak punya rencana membeli barang tersebut.

Kini Pasar Raya Padang telah rusak dimakan waktu. Besar harapan saya Pasar Raya Padang dapat kembali seperti dulu. Menjadi tempat yang rapi, terawat, tertib dan dapat menjadi tempat rekreasi yang menyenangkan.

Pranala Luar:

Pasar Raya Padang

Berpikir Komputasi

[Update] Kuliah Umum Berpikir Komputasi + Download Materi.

Malang bagi Sherlock Holmes, konsultan detektif yang hidup pada akhir abad ke sembilan belas. Ia mungkin sudah mengenal telegram, radio atau telepon, namun jelas ia belum mengenal komputer elektronik. Jika ia hidup pada zaman ini, saya berani bertaruh ia akan menambahkan metoda berpikir komputasi pada metoda pemecahan masalahnya.

Berpikir komputasi (Computational Thinking) adalah sebuah metoda pemecahan masalah dengan mengaplikasikan/melibatkan teknik yang digunakan oleh software engineer dalam menulis program. Berpikir komputasi tidak berarti berpikir seperti komputer, melainkan berpikir tentang komputasi di mana sesorang dituntut untuk (1) memformulasikan masalah dalam bentuk masalah komputasi dan (2) menyusun solusi komputasi yang baik (dalam bentuk algoritma) atau menjelaskan mengapa tidak ditemukan solusi yang sesuai.

Google for Education merangkum teknik berpikir komputasi diantaranya:

Dekomposisi: Yaitu kemampuan untuk memecah tugas (masalah) kompleks menjadi tugas-tugas kecil yang lebih rinci. Misalnya memecah ‘kopi susu’ berdasarkan komponen penyusunnya: kopi, gula, susu dan air panas.

Pengenalan pola: Yaitu kemampuan untuk mengenal kesamaan atau perbedaan umum yang nantinya akan membantu dalam membuat prediksi. Misalnya mengenal pola penjualan saham.

Generalisasi pola dan abstraksi: Kemampuan menyaring informasi yang tidak dibutuhkan dan menarik generalisasi dari informasi yang dibutuhkan sehingga seseorang dapat menggunakan informasi tersebut untuk menyelesaikan masalah yang serupa. Contohnya dalam menentukan posisi di bumi dapat digeneralisasi dengan menggunakan titik koordinat bujur dan lintang.

Perancangan algoritma: Adalah kemampuan untuk menyusun langkah-langkah penyelesaian masalah. Contohnya merancang langkah-langkah membuat kopi susu, dimulai dari mempersiapkan air panas, cangkir, sendok serta mencampur kopi, gula dan susu, mengaduk hingga menghidangkan.

Karakteristik berpikir komputasi adalah:

  1. Mampu memberikan pemecahan masalah menggunakan komputer atau perangkat lain.
  2. Mampu mengorganisasi dan menganalisa data.
  3. Mampu melakukan representasi data melalui abstraksi dengan suatu model atau simulasi.
  4. Mampu melakukan otomatisasi solusi melalui cara berpikir algoritma.
  5. Mampu melakukan identifikasi, analisa dan implementasi solusi dengan berbagai kombinasi langkah / cara dan sumber daya yang efisien dan efektif.
  6. Mampu melakukan generalisasi solusi untuk berbagai masalah yang berbeda.

Berpikir komputasi ditujukan untuk menyelesaikan masalah, bukan hanya untuk masalah seputar ilmu komputer, melainkan juga untuk menyelesaikan beragam masalah. Machine learning misalnya, telah menggubah bagaimana ilmu statistika dimanfaatkan. Sedangkan dalam bidang ilmu biologi, data mining (yang merupakan konsep komputasi) dapat melakukan pencarian pada sejumlah besar data untuk menemukan pola-pola. Harapannya adalah struktur data dan algoritma (yang merupakan teknik abstraksi pada ilmu komputer) dapat menggambarkan struktur protein dengan cara yang menjelaskan fungsi-fungsi mereka.

Selain diterapkan pada disiplin-disiplin ilmu yang disampaikan di atas, penerapan yang berpikir komputasi yang tidak kalah pentingnya adalah menerapkannya pada kehidupan sehari-hari. Bayangkan seseorang yang sebelum berangkat kerja mempersiapkan barang-barang yang akan digunakannya sepanjang hari pada tas-nya, hal tersebut adalah prefetching dan caching. Bayangkan juga apabila sesorang kehilangan pulpen-nya. Ia lalu mengusut kembali langkah-langkahnya ke belakang, hal tersebut adalah back tracking.

Berpikir komputasi adalah teknik pemecahan masalah yang sangat luas wilayah penerapannya. Tidak mengherankan bahwa memiliki kemampuan tersebut adalah sebuah keharusan bagi seseorang yang hidup pada abad ke dua puluh satu ini.

Referensi:

Berpikir Komputasi

Teluk Bungus

Jika pembaca melihat peta Padang, maka pembaca akan melihat bahwa bagian selatan kota Padang dihiasi oleh pegunungan dan teluk. Perpaduan pegunungan, pantai dan laut menjadikan lokasi tersebut sangat menyenangkan untuk dikunjungi.

Kota Padang

Awal tahun 2015 ini saya berkesempatan mengunjungi pelabuhan penyeberangan di Teluk bungus. Saat itu saya bersama Rosa, Ayu, Yudi dan Bebe hendak mengantar Yani yang pulang ke Sipora, Kepulauan Mentawai setelah menghabiskan akhir pekan di Padang untuk merayakan tahun baru.

Teluk Bungus adalah salah satu teluk yang berada di ujung selatan kota Padang. Untuk sampai ke Teluk Bungus, pelancong akan melewati sebuah teluk yang tidak kalah indahnya, Teluk Bayur. Perjalanan dari Teluk Bayur menuju Teluk Bungus melewati pinggiran bukit di tepi laut. Pelancong dapat menikmati pemandangan laut di depan Padang.

Pemandangan sekitar Teluk Bayur

Setelah melakukan perjalanan berliku, mendaki dan menurun, kami sampai ke daerah Bungus. Kami berhenti sebentar di TPI (Tempat Pelelangan Ikan). Kebetulan jadwal keberangkatan kapal menuju Sipora adalah pukul 7 malam. Masih ada waktu untuk bersantai sejenak.

Teluk Bungus

TPI berada agak kedalam. Perkiraan saya, ada sekitar 300 meter dari jalan raya. Tempatnya sejuk karena berada di kaki bukit. Kami bersantai pada dermaga TPI. Sore itu matahari sudah cukup rendah. Beberapa bagian area TPI tidak terkena cahaya matahari karena tertutup bukit. Kami sempat mengambil foto di dermaga.

“Kuburan Kapal” di Dermaga TPI

Suasana di TPI sangat tenang. Angin berhembus sepoi, udara sejuk. Lima menit saja duduk sudah terasa mengantuk. Ditambah lagi suasana yang tenang. Akhirnya kami memutuskan untuk berjalan-jalan di dermaga, tidak jauh dari lokasi kami duduk, mungkin sekitar 100 meter, sekumpulan anak-anak bermain di air. Kami sempat mengambil fotonya.

Anak-anak Bermain Air

Setelah puas jalan-jalan di dermaga TPI, kami berangkat ke pelabuhan penyeberangan Teluk Bungus, kebetulan Yani sudah memberi kabar bahwa ia sudah berada di pelabuhan. Tidak lama berkendara kami pun sampai. Yani sudah menunggu. Kami menghabiskan sore itu dengan mengobrol.

Ngobrol Sebelum Berangkat

Salah satu yang paling berkesan buat saya adalah makan pisang goreng. Sore itu di pelabuhan asik sekali. Matahari tidak terlalu menyengat, suasananya tidak bising dan teluk di kaki bukit itu terasa sejuk. Apa lagi ditambah pisang goreng. Sayang tidak ada teh atau kopi.

Sesaat sehabis senja kapal sudah akan berangkat. Ayu menyempatkan mengambil gambar kapal Feri yang digunakan Yani. Selamat jalan Yani. Semoga kita berjumpa lagi!

Kapal Feri

Sore itu saya menemukan tempat melancong yang asik. Ya, pelabuhan penyebrangan Teluk Bungus. Meskipun mungkin bagi sebagian orang terdengar aneh, namun suasana damai di sana solah mengajak saya untuk kembali. Sore itu 4 Januari 2015.

Kredit foto: Ayu – http://rywyu.tumblr.com/ | https://rywyu.wordpress.com/

Teluk Bungus

Pengetahuan Imperatif

Ada dua macam pengetahuan yaitu pengetahuan deklaratif (declarative knowledge) yaitu pengetahuan yang tersusun oleh sekumpulan fakta dan pengetahuan imperatif (imperative knowledge) yaitu pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesutu. Pengetahuan deklaratif menjabarkan fakta, namun tidak serta merta dapat menyelesaikan masalah. Untuk dapat menyelesaikan masalah dibutuhkan pengetahuan imperatif.

Pengetahuan deklaratif dapat menjelaskan fakta bahwa kopi susu adalah perpaduan kopi, gula dan susu. Namun fakta tersebut tidak menjelaskan bagaimana membuat kopi susu, sehingga menjadi tahu, tidak lantas menjadi bisa. Untuk menjadi bisa membuat kopi susu maka kita membutuhkan pengetahuan imperatif.

Dalam kasus kopi susu, maka pengetahuan imperatif nya adalah sebagai berikut:

  1. Masukkan dua sendok teh kopi ke dalam cangkir berukuran 180 ml.
  2. Tambahkan 2 sendok teh gula.
  3. Tuang 160 ml air panas ke dalam cangkir.
  4. Tambahkan 15 ml susu cair.
  5. Aduk.
  6. Jika kopi, gula dan susu sudah tercampur, angkat sendok dan hidangkan.
  7. Jika belum tercampur, ulang mengaduk.

Pengetahuan imperatif menjabarkan sekumpulan langkah terurut lengkap dengan alur kendali yang menentukan langkah mana yang akan dikerjakan berikutnya. Urutan langkah tersebut disebut sebagai algoritma.

Secara formal, algoritma adalah sekumpulan instruksi yang menggambarkan sebuah komputasi yang ketika dikerjakan pada sekumpulan input yang disediakan maka input tersebut akan berjalan melalui sekumpulan keadaan dan pada akhirnya menghasilkan output.

Untuk tahu, kita membutuhkan pengetahuan deklaratif, sedangkan untuk bisa kita membutuhkan pengetahuan imperatif.

Referensi:

Guttag, John. Introduction to Computation and Programming Using Python. N.p.: MIT, 2013. Print.

Pengetahuan Imperatif

Ayo (kembali) menulis blog!

Komitmen pertama saya untuk kembali menulis blog telah saya sampaikan pada salah satu tulisan saya di tumblr. Isinya adalah sebagai berikut:

Dua tahun sudah tidak blogging. Ada dorongan untuk kembali blogging. Menulis dan mendokumentasikan segala hal yung saya alami. Tentunya sangat subjektif. Tapi tak apa lah. Yang penting tetap jernih melihat dan cermat mencatat.

Di masa depan nanti mungkin sekumpulan blog akan menjadi tambang data yang luar biasa untuk menarik kesimpulan bagaimana tiap-tiap manusia (dalam subjektifitasnya) melihat dan mencatat penggalan sejarah yang sama.

Nb: Trims anggriyulio.com yang mengingatkan kembali betapa menyenangkannya menulis blog.

Namun kembali menulis blog baru terealisasikan pada minggu pertama tahun 2015. Terimakasih 2015, telah memberikan momentum buat saya.

Saya telah menulis blog sejak tahun 2009. Sebagian besar isinya seputar keseharian saya, dan ada banyak curahan hati di sana. Pembaca dapat mengakses blog pertama saya di sini: http://haddadsammir.blogspot.com/ .

Saya menggunakan Google Blogger, Tumblr dan WordPress sebagai platform blogging saya. Namun akhirnya saya memutuskan menggunakan platform wordpress sebagai platform blog utama saya dimulai dari tahun 2015. Ada beberapa alasan teknis mengapa saya memilih wordpress, diantaranya adalah ketersediaan template dan plugin yang banyak. Namun alasan yang paling kuat mengapa saya memilih wordpress adalah karena saya ingin memulai blog yang baru, dengan konsep yang baru.

Untuk urusan membaca blog dan tetap update dengan tulisan terbaru dari kolega-kolega saya, saya menggunakan Digg Reader. Sebuah Rss Reader online. Saya menggunakan online tools ini dengan sangat intensif.

Digg Reader
Digg Reader

Saya menilai menulis blog memberikan banyak manfaat bagi saya. Saat menulis blog mengenai keseharian saya, saya seolah merasakan beban yang saya miliki menjadi lebih ringan. Kurang lebih seperti curhat. Disamping itu, berbagi memang menyenangkan.

Menulis blog juga memaksa saya untuk berpikir kreatif. Tentunya setiap blogger ingin blog-nya tetap ter-update dan untuk itu seorang blogger akan menulis blog-nya secara teratur. Dengan begitu dibutuhkan ide-ide baru seputar topik yang hendak diangkat ke dalam blog. Untuk mendapatkan ide-ide baru, maka sesorang harus banyak membaca. Semakin banyak saya menulis, maka semakin banyak pula saya membaca.

Namun manfaat utama menulis blog yang saya rasakan adalah: menulis blog mengajarkan saya untuk berpikir sistematis dan terurut. Peristiwa dan ide-ide yang saya sampaikan pada tulisan-tulisan saya membuat saya perlu menyusun dan mengurutkan paragraf demi paragraf sedemikian rupa agar narasi yang saya sampaikan dapat diterima dengan baik oleh pembaca.

Oleh karena itu, melalui tulisan ini saya mengajak pembaca yang belum menulis blog, atau yang pernah menulis blog namun meninggalkannya, ayo (kembali) menulis blog!

Pranala luar:

Ayo (kembali) menulis blog!